Hari ini, pagi menjelang siang saya menyervis sepeda motor di rumah teman. Kebetulan ia sudah membuka bengkel sendiri setelah 21 tahun bekerja kepada orang lain. Karena lama tidak bertemu, sepeda motor tidak langsung ia kerjakan. Kami terlibat perbincangan tentang masa lalu, pekerjaan dan pendidikan anak.
"Saya kasihan sama anak-anak, terutama yang TK dan SD kelas bawah, tugasnya selama belajar dari rumah banyak. Hampir setiap hari pasti ada tugas. Saya tidak mampu membantu mereka belajar. Terutama kalau pelajarannya matematika. Coba lihat anakku, sekarang ia lagi belajar matematika", kata teman saya sambil menunjuk kepada anaknya yang sedang belajar di teras.
Saya memang sejak tadi sambil berbincang bincang mengamati anak teman saya yang sedang belajar. Ada buku paket, buku tulis, camilan di dekatnya dan dua HP android.
"Menurutku, anak belajar dari rumah bukan tambah pintar. Tetapi mereka akan mengalami kemunduran. Ujian yang mereka ikuti, terkadang hasilnya bukan hasil pikirannya sendiri. Mereka mencari jawaban ujian dari google", lanjut cerita teman saya.
"Bagaimana mana mereka melakukannya?" Pancing saya.
"Kalau ujian pakai dua HP, satu untuk akses soal dan satu HP yang lain digunakan untuk mencari jawaban di google dan bisa jadi cari jaeaban ke temannya." Teman saya menjelaskan.
"Kalau begitu, dibandingkan kita, anak sekarang lebih pintar dan cerdiklah...." jawab saya. Sepontan kami tertawa bersama sama.
"Betul juga. Tetapi bagaimana jika mereka tidak memegang HP. Bisakah mereka menjawab soal sebaik waktu kita sekolah?" Teman mematahkan jawaban saya.
Memang kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada satu sisi memudahkan. Namun, di sisi yang lain menjadikan kita lemah dan tidak mandiri. Bahkan kejuan itu bisa disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak baik.
Sepeda motor sudah mulai dikerjakan. Saya pindah ke teras rumah mendekati Dinda anak teman saya yang sedang asik belajar.
"Din, sedang belajar pelajaran apa?" Sapa saya. Walaupun saya sudah tahu dari tulisan pada buku yang sedang ia pelajari. Saya tidak akan saya lihat kalau Dinda sedang belajar pelajaran matematika.
"Sedang belajar pelajaran matematika, Om." Jawabnya.
"Enak ya, belajar dari rumah. Tidak repot repot ke sekolah, sering sering berkumpul dan orang tua dan saudara", komentar saya.
"Tidak enak Om. Enakan belajar di sekolah. Banyak tidak mengertinya. Apalagi pelajaran pelajaran matematika, susah. Sudah berkali kali dibaca tidak paham paham, Om." Jawab Dinda.
"Kan di Classroom ada materi, contoh soal dan vedionya Din..." jawab saya sok tahu.
"Tidak pakai Classroom. Pakai e learning sekolah, Om. Tidak ada videonya. Materinya semua teks. Ada beberapa vedio tetapi tidak ada penjelasannya hanya video tangan mengerjakan soal. Tetapi tetap sulit dan tidak mengerti. Ditambah lagi tugas mengerjakan soal banyak." Dinda menyakinkan saya.
Saya penasaran dengan penjelasan Dinda. Betulkah e learning sekolah untuk matematika kebanyak hanya berisi teks digital dan tidak ada video pembelajarannya. Oleh karena itu saya mencoba pinjam HP Dinda dan mengeksplor isi e learning untuk pelajaran matematika.
"Betul, banyak teks digital dan tidak ada video pembelajaran. Kalau hanya begitu, apa manfaatnya e learning. Siswa kan cukup di perintahkan membaca atau belajar dari buku paket", batin saya.
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) memang agak susah. Walau tidak sedikit keunggulannya dibandingkan dengan tatap muka. PJJ agah susah bagi guru mengontrol keaktifitas siswa. Karena hadirnya tidak sama dengan kehadirannya saat tatap muka. Siswa hadir, tetapi belum tentu hadir dalam pelaksanaan pembelajaran. Apalagi aktif ikut pembalajaran.
Berbeda betul. Saat pembelajaran tatap muka kita sangat mudah mengaktifkan siswa belajar. Tetapi kalau PJJ kita perlu cara khusus agar siswa kita aktif dalam pembelajaran.
Ada tips bagaimana mengaktifkan siswa saat PJJ. Tips ini saya dapat di youtube. PJJ baik luring maupun daring harus dirancang dengan baik agar siswa dapat belajar dengan baik, terlibat dan aktif.
Prinsipnya adalah MAU. Pertama mempersiapkan siswa belajar. Lalu aktifkan dan terakhir lakukan umpan balik. Bagaimana kita mempersiapkan siswa belajar dalam PJJ? Kalau daring, pastikan siawa dapat menggunakan, mengoperasikan dan memanfaatkan perangkat yang digunakan dengan baik. Jagan sampai siswa ketika pembelajaran tidak dapat menggunakan HP atau laptop dengan terampil. Sudah tahu mengakses materi dan menyerahkan tugas di ruang virtual.
Jika luring, pastikan siswa sudah tahu tahapan demi tahapan pemvelajan yang akan diikuti siswa. Perintahnya harus jelas dan pada intinya.
Kemudian tips berikutnya adalah aktifkan siswa. Materi yang diunggah harus menarik dipelajari. Kalau video jagan terlalu lama. Kalau lama ukurannya besar, susuh mendonwloadnya. Sinyal tidak bagus mendonwload tidak selesai selesai. Dan kalau lama yang mau menyaksikan jadi malas duluan sebelum nenyaksikan. Video dibuat maksimal10 menit saja.
Selain itu, yang terpenting adalah buatkan LK atau lembar kerja siswa. LK disiapkan tidak sembarangan. Tetapi melalui LK siswa dapat belajar setahap demi setahap. Dapat menyelesaikan tugas atau soal sesuai dengan langkah langkah yang sudah disiapkan.
Dan yang terakhir adalah jagan lupa memberikan umpan balik. Umpan balik peting dilakukan oleh guru. Sebab melalui kegiatan ini guru dapat mengukur sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Di samping itu, dari umpan balik guru dapat melalukan refleksi dan perbaikan pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.
Sumenep, 03 Agustus 2020
By: M Nurul Hajar


0 Komentar