Coba cek saja

 


Kerudung Merah

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fsoundcloud.com%2Fayifharuku%2Fgadis-kerudung-merah&psig=AOvVaw0e-2LS_wJ_9P8zCJLEcqQ8&ust=1626612913272000&source=images&cd=vfe&ved=2ahUKEwiZsKq4k-rxAhXX0HMBHdOiBTcQr4kDegQIARA1



Bagi Hasan, Pak Toni yang baru dikenalnya itu termasuk asesor yang nyintrik. Kalung tasbih dari tulang unta. Tidak pernah lepas di lehernya. Mau tidurpun ia pakai. Kecuali ketika mau bertugas visitasi semua asesoris yang ia punya ditanggalkan. Hanya satu, yang masih tetap dipakai. Cincin merah delimah. Yang lain semua di lepas. Gelang dari sisik penyu dan gelang akar tanaman di dasar laut juga dilepas saat bertugas. Termasuk dua cincin pirus dan satu akik zaman juga dilepas. Profesional dan pandai menempatkan diri.

"Hari ini kita berangkat jam berapa ke asesi Pak Ton?" Tanya Hasan sehabis keluar dari kamar mandi.

"Sebentar lagi mas, sekitar 20 menit. Saya akan menghubungi Pak Jamal dulu," jawab Pak Toni sambil melakukan panggilan. Paling sedang melakukan panggilan ke nomer Pak Jamal.

"20 menit lagi, cukup untuk bersiap siap. Tetapi kok berangkatnya pagi amat, jam 05.30," gumam Hasan.

Hingga hari ke tiga memang masih tugasnya Pak Toni menghubungi asesi. Hasan tinggal terima beres dan duduk masih menuju asesi. Sehingga Hasan tidak tahu, apakah asesi dari hotel tempat menginap dekat atau jauh.

"Mas, ayo berangkat. Pak Jamal sudah menunggu kita di depan hotel," ajak Pak Toni.

"Siap Pak Ton," Hasan langsung bergegas mengikuti langkah Pak Toni menuruni tangga hotel menuju ruang lobi.

Tidak lama setelah melewati sisi tepi kolam renang dan beberapa kamar, Pak Toni dan Hasan sampai di mobil.

"Maaf Pak Jamal, sudah sejak tadi menunggu ya?" Sapa Hasan sambil memasukkan tasnya di bagasi.

"Tidak, Mas. Baru saja saya sampai kok," jawaban Pak Jamal. "Bos, ini tidak kepagian? Baru jam 5.30 lho..." tanya Pak Jamal kepada Pak Toni.

"Seperti tidak Pak, saya cek tadi malam di google maps kurang lebih kita perlu satu jam perjalanan untuk sampai ke asesi. Belum lagi kalau kesasar."

"Pak Ton, asesi sudah dihubungi?" Tanya Hasan dengan ragu. Sepertinya tidak mungkin kalau asesi tidak dikabari kalau hari ini lembaganya mau divisitasi.

"Sudah saya sampaikan Hari ini jadwal visitasi. Namun, sudah berkali kali saya hubungi. Tadi malam sampai empat kali. Tadi pagi sudah 2 kali. Tetapi semuanya tidak diangkat." jawab Pak Toni.

Mobil mulai bergerak ke arah pinggir kota. Google maps sudah diaktifkan sejak mobil belum berangkat. Semakin lama semakin menjauh dari kota ke arah selatan. Hingga tanda panah dan lokasi di sedikit lagi berhimpit.

"Anda sudah sampai di tempat tujuan," pesan otomatis dari google maps.

"Kok nama TK-nya beda. Jagan jagan kita salah alamat Mas Hasan." Pak Toni memberi tahu Hasan dan Pak Jamal.

"Tenang Bos, sampean jagan ke luar biar saya yang bertanya." Kata Pak Jamal sambil bergegas membuka pintu mobil.

Tidak lama kemudian Pak Jamal kembali dengan membawa secarik kertas tertulis nomer HP.

"Bos, benar kita salah alamat. Barusan salah satu gurunya sudah dihubungi. Kita harus balik lagi ke kota. Lokasinya tidak jauh dari hotel kita"

"Kurang ajar, lokasi yang dikirimkan ternyata salah." Kata Pak Toni, dengan nada yang tinggi dan raut muka memerah.

"Saya ini lagi marah Pak Jamal." Lanjut Pak Toni.

"Sabar Bos, ambil hikmahnya. Betul kan, Mas Hasan?" Pak Jamal berupaya menenagkan Pan Toni.

Mobil balik arah meluncur ke arah kota.

"Saya benar benar marah Pak...Tetapi, saya lemah kalau dengan perempuan. Apalagi kalau sudah tersenyum kepada saya, biasanya saya tidak bisa marah,"

"Pak Ton, kalau tidak bisa marah. Saya saja nanti yang akan memarahi, bagaimana?" Hasan usul.

"Kw kw kw..."

Pak Toni dan Pak Jamal tertawa. Sebenarnya tidak ada yang lucu. Tetapi, Bagi mereka tidak kebayang bagaimana Hasan lagi marah. Sepertinya orang yang marahi tidak bakalan takut. Apalagi gemetar. Tampangnya tidak punyak bakat memarahi orang.

Secarik kertas itu diletakkan di atas boks antara driver dan penumpang bagian depan. Maka Diambillah secarik kertas yang tadi dibawa Pak Jamal oleh Pak Toni. "Bu Diah 08555553000," tulisan pada kertas itu.

"Bu Diah, nomernya cantik" bisik Pak Toni pada dirinya.

Ada ragu. Pak Toni tidak langsung menelpon Bu Diah. Ia masih kurang berkenan. Masih marah. Rasanya dipermainkan. Di kembalikan lagi kertas itu ke tempat semula.

HP Pak Toni berbunyi. Ada telepon masuk. Tetapi nomernya tidak dikenal. Bukan juga nomernya Bu Diah.

"Hallo..." terdengar suara perempuan dari sana setelah Pak Toni menerima panggilan itu.

"Iya, hallo..." jawab Pak Toni dengan nada datar. Sepertinya sudah tidak marah lagi. Mungkin suara dari seberang sana membuat adem ayem hati Pak Toni.

"Maaf Pak Toni, saya Bu Kanti, Kanti Lestari, Kepala TK Rimbun Asri. HP saya rusak sejak kemarin, jadi tidak bisa menghubungi jenegan. Mungkin jenengan juga tidak dapat telepon saya. Maaf nghi. Saya dapat nomer kontak jenengan baru saja. Saya dikirimi Bu Rahmi kepala PAUD yang jenegan visitasi kemarin." Suaranya seperti penyiar radio.

"Iya, Bu Kanti. Tidak apa apa. Saya sudah dalam perjalanan ke sekolah sampean." Jawab Pak Toni dengan nada seperti penyiar berita di TV swasta, tidak mau kalah.

Pembicaraan antara Bu Kanti dan Pak Toni baru saja selesai.

"Barusan Bu Kanti, kepala TK Rimbun Asri, yang telepon Mas. Dia minta maaf, HPnya rusak sehingga tidak dapat menghungi kita dan dihubungi." Pak Toni memberitahu Hasan.

"Oh iya, tidak jadi marah Pak Ton?" Ledek Hasan. "Kalau begitu jadi saya saja yang memarahi Bu Kanti," lanjut Hasan.

"Hus.."

Secarik kertas yang ada tulisan nama dan nomer HP di atas boks diambil Hasan tanpa permisi kepada Pak Toni.

"Bu Diah, nomer cantik. Bukan nomer dan nama Bu Kanti. Bu Diah saja yang saya telepon." Rencana Hasan. Tetapi ia tidak boleh marah kepada siapapun. Itu salah satu pesan ibunya yang selalu diingat ingat dan dijaga.

"Ass..., Bu Diah saya Hasan. Temannya Pak Toni," sapa Hasan.

"Wa'alaikumusslm...., ada yang bisa saya bantu Pak Hasan?" Jawab Bu Diah. Suaranya tidak begitu jelas. Tidak mungkin karena sinyalnya jelek. Ini sudah di daerah kota. Paling telinga Hasan yang error.

"Betul ibu, saya sudah posisi di Jl. Karau Gang II No 25. Tetapi saya tidak melihat ada sekolah TK. Yang ada sekolah SD."

"Sudah betul Pak, sebentar saya keluar, teleponnya jagan di matikan" jawab Bu Diah. "Hallo, saya sudah di luar Pak," lanjutnya.

"Di luar mana Bu, saya tidak melihat," jawab Hasan.

"Saya posisi di belakang mobil jenengan. Saya yang memakai kerudung merah, Pak."

Betul. Setelah Hasan menoleh ke belakang di kejauhan terlihat ada perempuan muda sedang berdiri memakai kerudung merah.

"Pak Ton, posisi kita kejauhan. Mobil kita harus mundur. Cewek berkerudung merah itu, itu Bu Diah. Sedang menunggu Kita" Hasan memberitahu Pak Toni sambil menunjukkan telunjuknya ke arah cewek berkerudung merah.

"Mundur Pak Jamal," perintah Pak Toni.

Mobil mundur. Karena tidak ada ruang untuk belok. Pas di dekat perempuan cantik berkerudung merah mobil berhenti. Pak Toni keluar duluan. Kemudian Hasan menyusul.

"Saya Bu Diah Bapak Bapak, ini Pak Toni ya? Dan yang masih muda ini Pak Hasan, kan?" Sapa Bu Diah.

Hati Hasan langsung berbunga bunga. Seperti mekarnya bunga mawar di pagi hari. Merah campur aduk.

"Betul, saya Hasan yang paling muda, mbak. Eh, Bu," jawab Hasan sambil tersenyum manis.

"Ayu Diah W, cocok sekali nama dan orangnya" gumam Hasan membaca plang nama yang disematkan di dada Bu Diah.

"Monggo Bapak Bapak, lewat sini. Maaf sekolahnya agak nyelempit," Bu Diah mempersilahkan tamunya.

"Mas Hasan, ingat ya. Harus objektif dalam melakukan penilaian visitasi. Kita jagan terpengaruh sama apapun, termasuk kerudung merah," bisik Pak Toni.

"Siap..., tetap profesional dan terpercaya," jawab Hasan.

Sumenep, 13 April 2020

Posting Komentar

0 Komentar