Coba cek saja

 


Pemancing Sejati

Oleh: M Nurul Hajar

29 Desember 2021


Awalnya tidak terpikir kalau pemancing ditinjau dari motifnya ternyata bermacam macam. Waktu kecil saya sering mancing bersama teman teman bermain. Kalau dapat ikan pancingan, kalau tidak digoreng kadang dibakar. Belum pernah punyak niatan untuk menjual hasil pancingan. 


Pernah suatu kesempatan saya ikut paman ke pagan (tempat menjaring ikan di tengah laut yang dibuat dari bambu) untuk menjaring  dan memancing ikan. Malam hari untuk menjaring ikan, habis sholat subuh kami mulai mancing. Memancing di pagan terasa beda bila dibandingkan  dengan saat mancing di pinggir pantai. Frekuensi umpan dimakan ikan, mancing di pagan jauh lebih sering. Oleh karena itu, potensi dapat ikan ketika mancing di pagan atau di tengah laut lebih potensial.


Hanya beberapa kali saja waktu saya mancing di pagan. Itu saya lakukan saat masih sekolah  MTs. Selama itu pula, walau hasilnya cukup banyak tidak pernah dijual. Hasil pancingan selain dikonsumsi sendiri, selebihnya diberikan kepada tetangga. 


Walaupun tidak menghasilkan uang, memancing itu nenyenangkan. Terutama saat tarik menarik dengan ikan yang kenak pancing. Kata teman saat tarik menarik itu, tidak dapat ditukar dengan uang. Tidak ternilai rasanya.


Pernah pada suatu kesempatan, tahun 2005, saya dengan beberapa teman berencana mancing di dekat Pulau Gililabak. Bekal yang kami bawa lengkap. Selain udang untuk umpan, ada kripik, krupuk, nasi dan lauknya hingga rokok.


Kami semangat untuk mancing di sana. Sebagian perjalanan kami tempuh melalui perjanan darat dari pelabuhan Talango menuju Gapura bagian timur dekat dengan Palasa. Dari situ kami baru naik perahu nelayan menuju Pulau Gililabak. Kurang lebih satu jam kami perjalan laut. Kemudian kami berhenti disekitar pulau Gililabak. Kami mancing di situ. 


Pasir, terumbu karang dan ikan ikan yang hidup di sekita Pulau Gililabak terlihat jelas dari atas perahu yang kami tumpangi. Ikan yang akan memakan umpan terlihat jelas dan terasa dekat. Padahal ikan ikan itu jauh di dasar laut. 


Namun nasip baik sedang tidak berpihak kepada kami. Kami hanya dapat seekor saja. Walaupun hanya dapat satu ikan, dari sekian banyak pemancing, kami sudah cukup terhibur dengan pemandangan indah  terumbu karang Pulau Gililabak. Dan perahu kami pun bersandar di Pulau Gililabak.


Kemudian, tahun 2018, menemani anak anak ikut mancing di dermaga Pulau Sapeken. Waktu itu sekedar mengisi waktu. Rasanya, waktu berjalan sangat lambat sekali di sana. Mungkin karena waktu itu saya tidak banyak aktifitas. Sehingga Rasanya sehari di Sapeken terasa seminggu.


Di sini saya berkenalan dengan penduduk asli Sapeken yang datang ke dermaga hanya membawa alat pancing tanpa umpan. Umpan beneran ataupun umpan mainan. Mungkin saking banyaknya ikan di bawah dermaga, hanya sekali lempar, pancing tampa umpan itu dapat ikan lumayan besar.


Ketika dalam perjalan pulang ke Sumenep di tahun itu, di kapal cepat saya bertemu dengan teman. Kami lama tidak bertemu. Terakhir bertemu di Malang tahun 2001. Saat ini ia bekerja sebagai guru ASN di salah satu SMPN di Kangean. Kalau sore hingga tengah malam ia isi waktunya untuk mancing ikan. Menurut penuturannya, rata rata pendapatan memancing perbulan, ketika dilakukan secara teratur dan optimal, tidak terpaut jauh dengan gaji sebagai ASN.


Hal ini sejalan dengan cerita teman dari Pulau Sepudi. Menurutnya, profesi memancing merupan profesi yang menjanjikan secara finansial. Hal ini diperjelas oleh fakta bahwa kebayakan jama'ah haji asal Sepudi dari kelompok nelayan pemancing.


Namun demikian, berbeda dengan pemancing di tempat kelahiran saya. Basibnya secara ekonomi bisa dibilangan stagnan. Bahkan untuk masa sekarang mereka tambah berat. Karena lokasi  mancing tambah jauh. Rumah ikan yang mereka bangun sudah banyak yang rusak. Ikan sudah pindah ketempat lain dan lebih jauh dari biasanya. Hal ini tentu memberi dampak kepada bahan bakar yang diperlukan serta waktu yang diperlukan untuk sampai ke tempat tujuan memancing.


Untuk urusan memancing, pemancing di kepulauan memiliki kalender memancing. Kapan berangkat memancing tidak mesti selalu sama. Mereka berangkat memancing mempertimbangkat apa ikan yang akan dipancing. Bagaimana angin dan arah arus air mengalir. Sebagaian mereka sudah ada yang  menggunakan perangkat pendetiksi kedalaman air laut, lokasi terumbu karang dan pendetiksi gerombolan ikan. Tetapi yang menggunakan cara cara tradisional lebih banyak.


Kalau melihat hal itu, saya ini termasuk pemancing tiba tiba tidak jelas tujuannya. Pokoknya bisa mancing. Tergantung situasinya. Oleh karena itu, saya kadang tahunan tidak pegang pancing.


Kemudian, karena desakan anak anak akhirnya dipertengahan tahun 2021 saya memulai memancing lagi. Setidaknya sekali dalam seminggu menemani anak anak memancing di dermaga Kalianget. 


Tidak cukup memancing di dermaga Kalianget, saya bersama anak anak pernah memancing di dekat pelabuhan Talango. Bahkan saat ini kalau mancing cenderung ke Pantai Sembilan Giligenting. Di sana sambil mancing bisa menikmati indahnya  pantai, pulau di sebrang dan gugusan bukit atau gunung di pulau sebrang. Kalau mancing ikan, ikannya kelihatan seperti sedang berhadapan dengan akuarium besar.


Di pulau ini,  istri saya yang awalnya hanya mengantarkan anak anak. Saat ini sudah bergeser posisinya, ia yang paling unggul kalau urusan mancing. Kami sekeluarga senang mengisi waktu dengan memancing. Tentu harapannya dapat. Rata rata hasil mancing di sekitar pantai Sembilan bisa untuk lauk dua hari. Tetapi saya dan keluarga belum berani memancing di laut lepas.


Di akhir bulan November dan kira kira hampir semua hari di bulan Desember saya tidak dapat memenuhi keingin anak dan keluarga  untuk memancing. Karena banyak kegiatan. Untungnya Sabtu 25 Desember 2021 saya berkesempatan menemani anak anak dan keluarga memancing di pantai sembilan.


Di kesempatan ini, saya dan keluarga berkenalan dengan pemancing mania asal Surabaya. Berbeda dengan teman baru yang sudah pernah mancing di dermaga Pantai Sembilan. Teman yang satu ini motivasi memancingnya berbeda. Menurut ceritanya, hasil pancingan yang di bawa pulang hanya secukupnya sesuai keperluannya saja. Selebihnya ia lepas. 


Karena termasuk dari  bagian mancing mania, beberapa tempat mancing di Jawa Timur sudah dicobanya. Termasuk tempat mancing di Pulau Pandan dan Putri Giliraja sudah pernah di datangi. Bahkan beberapa kali mancing di Kepulaun Sapeken.



Ia tidak suka mancing di kolam. Baginya lebih menantang kalau memancing di laut lepas. Kalau urusan alat , dan jenis pancing di dalam tas yang  ia bawa lengkap. 


Wawasan tentang biota laut, saya bukan tandingannya. Ia tidak suka cara menangkap ikan yang ditombak, ditembak apalagi menggunakan potasium. Tidak hanya itu, sepertinya ia juga mengerti perilaku ikan. Lengkap pengetahuaanya tentang mancing ikan.  Bahkan kalau saya ditanya apakah ikan memiliki rasa sakit saat kenak pancing apa tidak?  Jawabannya hingga saat  tulisan ini saya tulis, saya belum bisa menjawan dengan baik dan ilmiah.

Posting Komentar

0 Komentar