Coba cek saja

 


Kota Lama Semarang

Oleh: M Nurul Hajar

13 Januari 2022


Jam 11.15 pesawat yang saya naiki mendarat di bandara Internasional A Yani Semarang. Pesawat dari maskapai Batik Air itu mendarat dengan mulus di bandara. Hampir tidak terasa ada efek benturan antara roda pesawat dengan aspal landasan saat pesawat mendarat.
Tidak lama setelah mendarat, penumpang satu persatu turun dari pesawat. Bagian depan, turun melalui pintu depan. Sebagian yang dekat dengan pintu belakang turun melalui pintu belakang melewati tangga besi. Saya termasuk yang melalui pintu belakang. Ini pengalaman kali pertama saya menginjakkan kaki di Semarang.
Di ruang kedatangan saya mencari tempat mojok. Saya harus browsing alamat dan lain lainnya tentang Golden City Hotel and Convention Center Semarang. Sehingga alamat tujuan tidak salah saat berkomunikasi dengan driver taxi atau orang lain. Selain itu, saya ingin istirahat sejenak di bandara sebelum menuju hotel dan menikmati suasana bandara A Yani. Saya tidak perlu buru buru karena kegiatan saya masih jam 13.00 WIB. Itupun jika ontime.
Sebagaimana kita ketahui, setiap bandara dibangun dengan sejumlah filosofi, segudang konsep dan seribu pesan. Sehingga kalau kita melihat bentuk bangunan, asesoris, warna, gambar gambar yang dipajang di dinding, monumen dan patung atau yang lainnya akan memberikan kesan yang khas suatu bandara.
Bagi saya Bandara Internasional A Yani Semarang menyampaikan pesan bahwa Semarang memiliki pelabuhan besar menjadi tujuan kapal dan perahu layar dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri. Kira kira Semarang pernah atau hingga saat ini menjadi salah satu pusat perdagangan dunia.
Setelah cukup memandangi sekitar bandara, saya melanjutkan perjalanan ke hotel. Diantara tawaran kendaraan yang ada, saya memutuskan sebaiknya saya naik taxi bandara. Mungkin lebih mahal. Tetapi bagi saya pribadi yang baru kali pertama ke Semaeang, pilihan itu lebih baik.
"Golden City Kota Lama pak," saya langsung memberi tahu petugas karcis taxi bandara.
"Rp. 65.000, 00 mas..." Jawab petugas.
Setelah saya bayar, karcis sudah saya terima, saya langsung naik taxi yang sudah siap menunggu antrian. Taxi melaju ke luar bandara.
"Pak, Golden City Hotel berapa jam dari bandara?". Saya mulai membuka pembicaran.
"Tidak jauh mas, paling 20 menit kita sudah sampai."
"Oh dekat dari bandara. Kalau Kota Baru Semarang dari sini arahnya ke mana pak?" Saya mengembangkan pembicaraan.
Lama Bapak supir tidak menjawab. Saya mencoba menunggu dengan sabar sambil memandaginya. Namun belum juga keluar jawaban terhadap apa yang saya tanyakan. Oleh karena itu, saya menanyakan kembali.
"Pak, Kota Baru Semarang posisinya di mana?" Setengah menaikkan volume suara.
Bapak itu geleng geleng kepala. Sambil memandangi saya. Dengan tatapan heran, "Pertanyaan sampean itu aneh. Di sini yang ada Kota Lama. Tidak ada Kota Baru."
Dalam benak saya, jika ada kota lama mestinya ada kota baru. Di daerah saya, ada terminal lama ada terminal baru. Demikian pula saat saya ke Balikpapan. Di sana ada Balikpapan lama, maka ada Balikpapan baru. Sangatta lama ada Sangatta baru. Di Malang pun demikian, ada kota lama ada kota baru. Bahkan ibu kota negara juga ada atau bakalan ada ibu kota negara baru. Tetapi di Semarang beda. Hanya ada Kota Lama Semarang.
Akhirmya saya sampai juga di Golden City Hotel di kawasan Kota Lama Semarang. Di lobi hotel sudah ada teman teman tim instruktur. Ada Pak Arif dan Bu Indah dari Solo. Kemudian ada Bu Eva dari Sumedang yang datang belakangan.
Pembukaan kegiatan yang sedianya jam 13.00 WIB diundur menjadi 15.30. Sehingga saya punyak waktu cukup untuk istirahat setelah perjalan jauh. Dari Sumenep berangkat hari Rabu 01 Desember 2021 jam 19.30 WIB. Naik pesawat dari Surabaya hari kamis 02 Desember 2021 jam 05.00 WIB menuju Semarang Transit 3 jam di Jakarta.
Saya hadir pada acara pembukaan tepat waktu. Ketika Bapak Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Kanwil Provinsi Jawa Tengah memberi sambutan saat pembukaan kegiatan, saya baru tahu kalau Kota Lama, tempat tujuan wisata, tempat nongkrong pada malam hari tidak jauh dari hotel. "Bapak/Ibu peserta Bimtek, sehabis kegiatan boleh lihat lihat Kota Lama. Tidak jauh dari hotel kita. Sebaiknya malam kalau mau lihat lihat kota lama. Karena malam hari Kota Lama akan terlihat sangat indah" menurut penjelasan Bapak kasi.
Hari pertama, sehabis kegiatan saya langsung istirahat. Cerita Bapak Kasi tidak begitu menarik untuk saya buktikan. Karena badan tidak dapat diajak kompromi.
Keesokan harinya, habis sholat shubuh. Saya jalan jalan disekitar hotel. Tidak jauh dari hotel ada komplek bangunan tua dengan model bangunan Eropa. Bangunan yang luar bias. Terbayang bagaimana megahnya bangunan itu di masanya. Saat ini saja masih sangat menarik dan mengagumkan.
Saya menelusuri jalan lurus diantara bangunan itu. Di hari ke 2 itu, saya melewati sekolah TK Kristen yang berdampingan dengan bangunan unik dengan cat kombinasi merah dan putih. Di depan sana ada parkir umum kota lama sebelum sampai ke parkir, saya mengambil gambar Hotel Raden Patah.

Lebih jauh lagi ada bangunan yang sedang di cat ulang, yaitu Weeskamer. Saya tidak tahu fungsi gedung itu. Yang terpikir ketika itu saya mengambil foto saja. Disekitarnya banyak juga bangunan yang sedang diperbaiki atau dicat.

Saya berhenti di depan gedung Spiegel untuk mengambil gambar diri dengan latar tulisan gedung Spiegel kenak foto. Di seberang area terbuka untuk bersantai ada bangunan megah tepat di pertigaan dengan cat warna merah dan putih. Di bagian atas tertulis MARBA. Pokoknya MARBA, saya jagan ditanya artinya apalagi disuruh menjelaskan maksudnya.

Di tempat ini saya bertemu dengan BU Eva. Ia sedang dari pasar membeli bahan untuk praktikun sains di hotel. Saya ditawari untuk difoto. Namun saya menolak. Malah sebaliknya saya yang menawarkan diri untuk memfoto dengan latar gedung MARBA. Setelah itu saya ditawari kembali untuk ambil foto diri. Kali ini saya akhirnya menyerah bersedia untuk diambil foto dengan latar gedung MARBA. Lumayan hasil fotoku. Keren juga.

Saya melangkahkan kaki lebih lanjut. Di depan ada gedung Jiwaseraya. Ada gedung Bank Mandiri. Terus berikutnya ada gedung GPIB Immanuel. Tak lupa saya foto diri di depan gedung Galeri Kreatifitas Semarang. Sebelum sampai di ujung jalan ada seretan bagun dengan tulisan distrect 22. Kemudian saya menyebrang jalan lurus dengan tululisan jembatan. Di sebelah kanan ada monumen.

Karena sudah menunjukkan jam 06.00 WIB, saya meputuskan untuk kembali melewati jalan sebelah jalur yang pertama saya lewati. Jalannya tidak selebar jalan pertama. Mungkin ada separuhnya. Tetapi gedung di kiri kanan jalan dengan ketinggian sama. Mirip dengan ruko.Sepertinya bagian ini dulu adalah termasuk pusat perdagangan di masa kolonial Belanda.

Ketika jalan yang saya telusuri mentok, maka saya ambil arah kanan. Dua kali saya mengalami jalan mentok. Akhirnya saya kembali ke are parkir kota lama.
Keinginan ke kota lama saat malam hari di hari ke 2 tidak dapat saya lakukan. Karena keadaan diri yang tidak memungkinkan. Sehingga yang memungkinkan di waktu pagi untuk keluar hotel.

Pagi, hari ke 3 saya mencoba ke arah depan lalu ke kiri dari hotel. Tidak ada hal yang menarik yang saya temukan pada perjalanan pagi itu.
Namun ketika sore hari, saat ke klinik untuk Suweb Antigen saya bisa melihat kemegahan dan kokohnya bangunan Lawang Sewu. Sanyang sekali karena kondisi hujan saya tidak sempat foto diri di gedung Lawang Sewu.

Pada hari ke 4, pagi hari saya mencoba arah ke kiri lebih jauh. Saya mengikuti arah aliran kali. Ternyata saya akhirnya sampai ke kompleks bangunan tua yang sudah banyak tidak terawat dan banyak tanaman liar yang tumbuh di situ. Jika kita menghadap ke seberang maka kita pas di depan Stasiun Tawang Semarang.
Khawatir terlambat masuk kelas, maka saya memutuskan untuk kembali ke hotel dangan cara kira kira jalan tengah Kota Lama.

Selama perjalanan saya masih penasaran dan berpikir tentang suatu peradaban di abad ke 18 yang akan saya pelajari saat ada di rumah. Saya penasaran dengan Kota Lama ini diantaranya karena belum bisa menapakkan kaki dibagian timur Kota Lama Semarang. Konon Kota ini masih menyimpan segudang mesteri yang belum terkuak. Penelitian tentang Kota Lama Semarang masih baru dimualai. Semoga temuannya akan memberikan titik terang eksistensi Kota Tua ini.

Posting Komentar

0 Komentar