Oleh: M Nurul Hajar
Sumenep, 23 Februari 2022
Tadi malam di WA grup yang saya ada di dalamnya ada yang cukup menarik untuk saya cermati. Satu persatu komentar teman teman yang memberi respon saya baca dengan seksama. Kira kira, mereka ada yang senang. Ada yang prihatin. Insya Allah banyak yang ikut bangga. Mungkin juga senang, bangga dan prihatin campur baur jadi satu di hatinya.
Tentang apa, ya? Sepatu sang atlit itu sempat menjadi trending topik di grup. Hal ini tentunya mengalahkan kegembiraan dan kebanggaan sebagian yang lain karena sang atlit lari itu yang menjadi juara 1 Porseni tingkat Provinsi Jawa Timur pada jenjang MI .
Sebenarnya apa yang menarik dari sepatu sang atlit? Ternyata sepatu itu sudah butut. Mungkin saja sering dipakai untuk latihan. Tetapi bukan sang atlit yang memakainya untuk latihan. Karena usut punyak usut sepatu itu bukan milik sang atlit. Sepatu itu Ia pinjam kepada temannya.
Oleh karena itu, menjadi lebih enak dan menarik digoreng momentum ini. "Atlit yang mewakili Kabupaten tidak dapat fasilitas lengkap", kata seorang anggota WAG.
" Kalau juara banyak yang mengaku. Tetapi tidak pernah difasilitasi." Komentar teman saya yang duduk berdekatan dengan saya.
Ada yang bersimpati. "Ayo kita Galang donasi untuk sang juara," kata sebagian anggota WAG yang lain.
Tetapi bisa jadi justru karena sepatu itu memang bertua. Yang biasa dipinjamkan buat atlit yang percaya dan yakin bahwa dengan sepatu itu, ia akan sampai pada suatu tujuannya. Kalau yang demikian itu wajar harus pinjam. Karena sepatu itu bukan sembarang sepatu.
Tetapi ini kayaknya berbeda. Setidaknya sudah beberapa kali saya mendengar para juara atlit di madrasah yang berprestasi karena kemampuan alamiah. Bukan karena ada pembinaan. Bukan ada fasilitas pendampingan yang layak dan akomodasi yang memotivasi. Jarang jarang, dengan kata lain sudah dipikirkan, direncanakan dan tidak terealisasi. 😀😀😀
Selamat sang juara....saya bangga.

0 Komentar