Suhairi Rachmad, dosen IAIN Madura
adalah teman asesor PAUD yang pertama kali membersamai saya ke Pulau Sakala.
Pak Suhai, panggilan akrabnya berdomisili di Desa Tlaga Ganding Sumenep. Asesor
Sumenep yang statusnya sebagai asesor dari Pamekasan, termasuk asesor yang
sudah berpengalaman berkunjung ke daerah kepulauan. Tidak hanya ke Kangean yang
pernah dikunjungi, setidaknya hingga tahun 2022 sudah dua kali ke Pulau
Masalembu.
Bandar Udara Trunojo Sumenep
Tempat tinggal Pak Suhai di dataran
tinggi bagian Selatan Kecamatan Ganding. Masa kecilnya di habiskan di sana,
lalu nyantri dan melanjut studi pendidikan S1 di Jember dan S2 di Surabaya .
Oleh karena itu, pada saat naik perahu penyeberangan Kalianget Talango saya
bertanya, “Pak Suhairi bisa berenang?”
Pak Suhai diam sejenak. Sepertinya ada
yang dipikirkan, lalu bilang “Bisa.”
“Dimana dan kapan belajar berenang?’
Tanya saya penasaran.
Jawabannya tertawa.
“Pak, ada hal yang kadang orang lain
tidak memikirkannya. Jika pelayaran laut menyebabkan kematian, tentu orang
pulau sudah banyak yang meninggal karena tenggelam. Ternyata tidak, kan?
Padahal, yang sering terjadi kecelakaan adalah ketika perjalan di darat,”
jawabya yang diakhiri dengan tertawa ala Pak Suhai.
Terlepas dari masalah renang berenang,
kata kata Pak Suhairi sangat benar. Ini ilmu bagi saya. Bisa menjadi motivasi
bagi yang belum pernah ke pulau. Bisa menjadi keyakinan yang harus diimani bagi
orang yang takut melakukan perjalan laut. Setidaknya bisa menjadi penyemangat bagi
orang yang tidak bisa berenang sedang berlayar ke pulau.
Besok pagi jam 08.00 WIB kami akan
melakukan penerbagan dari bandara Trunojoyo Sumenep menuju Bandara Pagerungan
Besar. Kemudian dari pulau ini kami akan melanjutkan perjalanan laut ke Pulau
Sakala. Tiket sudah saya beli 2 hari sebelum penerbangan. Penerbangan Bandara
Trunojoyo ke Pagerungan Besar kurang lebih ditempuh dalam waktu 40 menit.
Sebelum penerbangan kami sempat eksplor
Bandara Trunojoyo yang baru beberapa bulan di resmikan. Tak lupa kami mengabadikan
beberapa sudut bandara dengan foto diri. Bahkan saat di landasan pacu pesawat
kami tak menyianyiakan kesempatan untuk melakukan foto diri.
Pesawat kecil dengan kapasitas maksimal
11 orang, hanya mengangkut 7 orang sudah mulai terbang dari Bandara Trunojoyo
menuju Pagerungan Besar. Sepuluh menit pertama kami masih berseda gurau.
Selebihnya saya menikmati penerbangan sendirian. Karena kelihatannya Pak
Suhairi sedang tidur.
Duduk di bagian belakang pesawat rasanya
cukup luas. Jarak kursi penumpang bagian belakang ke kursi penumpang bagian
depan cukup jauh. Tidak sama dengan jarak kursi penumpang lainnya. Karena pada
bagian belakang itu tempat lewat penumpang keluar masuk pesawat. Menjadi lebih
luas, karena bagian belakang mestinya untuk ditemapati 3 orang penumpang. Diisi
2 orang, saya dan Pak Suhairi.
Naik pesawat kecil dengan rute
perjalanan pendek ada kelebihaannya. Kelebihannya antaraa lain pesawat terbang
rendah. Oleh karena itu, selama perbangan kita bisa menikmati alam dan laut
dari atas. Hamparan permukaan laut yang memiliki warna bermacam macam masih
terlihat dengan jelas dari pesawat. Perbedaan warna itu menunjukkan perbedaan
kedalaman air laut dan perbedaan dasar laut. Beberapa pulau yang dilalui dapat
juga kita lihat dari atas pesawat dengan baik. Tetapi ada tidak enaknya. Naik
pesawat ukuran kecil bising. Suara baling baling pesawat bikin telinga sakit.
“Pak, bangun. Pesawat hampir mendarat,”
saya membangunkan Pak Suhai. Saya goyang goyang lengannya.
Pesawat mendarat dengan baik. Hampir tidak
terasa benturan roda pesawat dengan landasan pacu pesawat. Nyaman dan aman yang
saya rasakan. Berbeda dari pengalaman waktu naik pesawat kecil dengan kapastas
30 penumpang saat penerbagan ke Yogjakarta. Sejak awal penerbangan sudah ada
rasa waswas. Khawatir pesawat pecah. Waktu itu saya baru pertama kali naik
pesawat kecil. Sebab kalau naik pesawat besar, saya belum pernah mendengar
deritan badan pesawat yang seolah olah ada bagian pesawat lepas murnya. Bahkan
saya sempat trauma naik pesawat ukuran kecil, karena waktu itu, ketika pesawat
mendarat rasanya ada bunyi dentuman akibat benturan roda pesawat dengan
landasan pacu.
Itu dulu.
Setibanya di Pagerungan Besar, kami
tidak langsung melanjutkan perjalanan. Karena perahu yang akan membawa kami
masih dalam perjalan dari Sakala menuju Pagerungan Besar. Sehingga kami
diistirahatkan di rumah singgah di dekat bandara.
“Saya baru kali ini naik pesawat, Pak.
Saya tadi sempat membayangkan bagaimana kalau pesawat yang kita tumpangi jatuh.
Tentu kita bakalan habis, tinggal nama,” kata Pak Suhairi sambil rebahan di
kasur membuka pembicaraan di rumah singgah.
Saya heran dan berpikir, tadi di pesawat
kok bisa tidur. Kecemasan di raut muka Pak Suhairi sempat saya lihat. Tetapi
sepintas sudah biasa naik pesawat. Apa Pak Suhairi minum obat antimo, obat anti
mabuk yang bisa menyebabkan ngantuk dan tidur. Entahlah.
Ada perasaan bersalah, saya mengajak Pak Suhairi naik pesawat.

0 Komentar