"Lain ladang lain belalang"
Tentu pepatah ini sering kita dengar. Kira kira, jika kita kaitkan dengan Covid 19, kita mestinya akan paham bahwa kalau lain desa lain kebijakan, lain kecamatan lain juga kebijakan, termasuk lain kabupaten, lain provinsi dan lain negara juga lain kebijakan. Termasuk juga kebijakan para pengelola pendidikan.
Pandemi Covid 19 secara tidak langsung maupun langsung menjadi stimulus para penyelenggara pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk melakukan inovasi. Walaupun berat, para penyelenggara pendidikan bertahan agar pendidikan tetap jalan terus.
Pendidikan. Pembelajaran tidak bisa tatap muka, dengan cepat berubah pembelajaran dilaksanakan jarak jauh atau dikenal dengan PJJ. Kalau PJJ, mestinya bisa luring dan daring. Namun, hampir semua orang beranggapan jika PJJ kecendrungannya daring. Padahal sangat bisa luring.
Karena kebijakan belajar dan bekerja dari rumah itu tiba tiba, mendadak, cepat begitu saja sehingga banyak guru dan pengelola pendidikan tidak terpikir bagaimana cara PJJ tipe luring yang baik dan efektif. Akibatnya dimana mana daring yang tidak bisa daring menjadi masalah yang menarik hingga menjadi masalah nasional.
Bagi siswa di daerah perkotaan, belajar dari rumah bukan menjadi kendala. Jaringan dan pendampingan cukup terpenuhi. Paling kendalanya, siswa lebih sulit memahami pelajaran dengan baik. Tetapi banyak juga yang tidak mengalami kesulitan dalam belajar.
Siswa dipinggiran, katakan saja di desa dan pelosok desa, untuk daring murni tidak memungkinkan. Oleh karena itu, bisa menggunakan luring. Tetapi luring waktu itu suatu yang sedikit orang yang memikirkan. Sehingga penyelenggara pendidikan dipinggiran melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Dengan berbagai macam cara sekolah memasukkan siswa untuk mengikuti pembelajaran tatap muka. Bagaimana caranya agar tidak sama dengan pembelajaran tatap muka yang sudah dikenal sebelum pandemi Covid 19, diantaranya ke sekolah tidak seragam. Ada yang masuk sore hari. Jam belajar dan materi dikurangi. Begitu di pinggiran yang terjadi. Bahkan ada yang masuk sekolah normal. Seperti tidak pernah mendengan kalau ada peraturan siswa belajar dari rumah dan guru mengajar dari rumah.
Sejauh ini, sekolah dipinggran walau tatap muka tidak menjadikan aktifitas itu menyebabkan kasus terjadinya klaster baru. Mungkin karena masyarakat desa mobilitasnya ke luar wilayah yang relatif rendah, jarak penduduk satu dengan yang lain agak berjauhan, sedikit melakukan interaksi dengan orang lain dari luar desa yang berpotensi penyebar virus, profesinya relatif homogen. Intinya masyarakat pinggiran potensi untuk menjadi klaster baru cukup rendah bahkan faktanya nihil. Termasuk masyarakat kepulauan.
Sayangnya sudah kadung disamaratakan.
Covid 19 pada satu sisi, dalam beberapa hal, memberi pelajaran kepada kita, kepada pengelola pendidikan, memperkaya pengelolaan pendidikan. Dulu hanya tatap muka. Kini, sudah mampu melakukan PJJ. Sehingga ke depannya pengelolaan pembelajaran bisa di lakukan oleh sekolah melalui pembelajaran PJJ dan pada saat yang bersamaan juga melakukan pembelajaran tatap muka. Dengan kata lain, kedepan pembelajaran yang akan diikuti oleh siswa ada berbagai pilihan pembelajaran yang disiapkan oleh sekolah. Siswa atau orang tua dapat memilih pembelajaran tatap muka, atau luring, atau daring dan atau kombinasi kemungkinan pembelajaran yang ada.
Memang konsekwensinya tidak sedikit. Tetapi ini memungkin untuk dilakukan oleh sekolah di daerah perkotaan. Yang dipinggiran boleh juga jika memungkinkan.
Mengapa ini penting kita pikirkan. Karena beberapa kasus, setelah beberapa sekolah diijinkan melalkukan tatap muka di beberapa daerah perkotaan maka muncul klaster baru dan banyak siswa terpapar Covid 19.
Kalau sudah seperti itu, orang tua yang membaca berita itu, bagaimana tidak akan mengkhawatirkan anaknya aman dan bebas dari bayang bayang Covid 19 saat mengikuti pembelajaran tatap di sekolahnya. Tentu rasa waswas akan menyelimuti.
Oleh karena itu, para pemangku kepentingan pendidikan harus lebih arif dalam menyikapi keadaan kita saat ini. Berbagai macam pilihan perlu disiapkan oleh penyelenggara sekolah dan wali murid harus saling menghormati terhadap sesama wali murid yang memilih dengan pilihan berbeda.
Di masa yang masih belum menentu ini, walaupun pemerintah memberi ruang untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, pengelola sekolah di perkotaan harus ekstra berhati hati. Karena siswa daerah perkotaan potensial menjadi klaster baru.
Dengan demikian, saat ini adalah waktu yang tepat bagi sekolah di perkotaan untuk melakukan manajemen pembelajaran tidak tunggal. Sekolah perlu memberi ruang kepada siswa boleh belajar dari rumah, home schooling.
Hal itu mungkin dapat dilakukan? Sangat mungkin sekali. Sayang sekali saya tidak punyak sekolah. Andai saja saya kepala sekolah tentu saya akan melakukan pembelajaran tidak hanya tatap muka. Tetapi saya bukan siapa siapa. Bupati bukan, Mendikbud juga bukan. Apalagi RI 1.
Sumenep 16 Agustus 2020
By: M Nurul Hajar


0 Komentar