Coba cek saja

 


Muslim Moderat Kota Sumenep


Masyarakat Sumenep terkenal dengan tutur katanya yang halus dan perilakunya yang ramah. Sehingga beberapa orang mempadan Sumenep dan Jogyakarta, bahwa kalau Jawa ada Jogyakarta maka Madura ada Sumenep. Hal ini secara tersirat dapat dipahami bahwa masyarakat Sumenep memiliki peradaban dan kebudayaan yang baik. Selain itu, ternyata masyarakat Sumenep memiliki kekayaan yang tak ternilai yang terjaga sejak dulu hingga saat ini. Kekayaan itu berupa praktik moderasi beragama yang sudah ada jauh sebelum konsep moderasi beragama digaungkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Praktik moderasi beragama itu dapat kita saksikan dari beberapa fakta yang ada di Sumenep. Di ujung timur pulau Madura ini, tepatnya di Desa Pabian Kecamata Kota Sumenep Kabupaten Sumenep ada tiga rumah ibadah dibangun berdekatan. Ada Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel   dan Klenteng Pao Xian Lin Kong. Ini adalah fakta yang menunjukkan masyarakat Kota Sumenep walaupun memiliki keyakinan yang berbeda dapat hidup berdampingan, rukun dan harmonis.


Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel didirikan pada tahun 1937 di Desa Marengan. Gereja ini dalah gereja yang pertama dibangun di Sumenep dan di Madura. Karena invasi Jepang ke Madura, maka aktifitas gereja terhenti berakibat bangun yang ada rusak. Sehingga pada tahun 1950 gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel dibangun kembali dengan lokasi baru di Desa Pabian sehingga berdekatan dengan klenteng dan masjid. Letaknya dari titik 0 Km Kota Sumenep kurang lebih 1,5 Km kearah Timur. Di sebelah Timur Gereja, kurang lebih 50 meter, ada Klenteng Pao Xian Lin Kong tempat ibadah orang – orang Khonghucu. Menurut catatan yang ada, klenteng ini sudah berusia 109 tahun. Artinya jauh sebelum agama Khonghucu diakui sebagai salah satu agama yang dianut warga Negara Indonesia, masyarakat Sumenep sudah menerima eksistensi agama Khonghucu. Dibandingkan usia gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, Klenteng Pao Xian Lin Kong usianya jauh lebih tua. Dua bangunan ini menghadap ke Selatan ke Sungai Kali Marengan.

Di seberang sungai Kali Marengan, kurang lebih 50 meter di depan bangunan gereja dan klenteng, ada bangunan masjid Baitul Arham. Masjid ini dibangun pada tahun 1948 dua tahun lebih awal tempat ibadah ummat kresten.  Jadi, di Desa Pabian pertama kali ada bangunan klenteng Pao Xian Lin Kong,  kemudian masjid Baitul Arham dan baru dibangun gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel.

Terlepas dari sejarah panjang bagaimana Islam berkembang, Kresten dan Khonghucu  berkembang menjadi kelompok masyarakat minoritas di Kota Sumenep dan Kabupaten Sumenep secara umum, tentu orang Islam atau yang biasa juga disebut muslim memiliki peran yang strategis adanya tiga rumah ibadah yang berdekatan di Desa Pabian.  Andai muslim Kota Sumenep yang mayoritas tidak menghendaki tentu tidak akan pernah ada Gereja dan Klenteng di Desa Pabian. Namun, karena pemahaman keagamaan muslim Kota Sumenep yang moderat yang terimplementasi menjadi muslim yang baik, yang memiliki rasa toleransi terhadap kelompok agama yang lain, maka tempat ibadah orang Kresten dan Khonghucu yaitu gereja dan klenteng berdiri megah di depan masjid Baitul Arham.


Kebesaran hati muslim Kota Sumenep tentu bagi non muslim akan dibalas dengan kebaikan yang serupa. Mereka saling menghormati dan menghargai keyakinannya masing – masing. Sehingga sampai saat ini mereka dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Sebagaimana yang dimuat pada website pemerintah daerah Kabupaten Sumenep http://sumenepkab.go.id yang menjelaskan bahwa diantara mereka saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya. Mereka tidak mengadakan kegiatan besar bersamaan. Kalau masjid Baitul Arham mengadakan peringan Maulid Nabi Muhammad SAW, maka di seberang sungai Kali Marengan tidak ada pengumpulan jamah dan tidak ada bunyi bunyian yang akan mengganggu kegiatan di masjid. Demikian pula sebaliknya.

Ini potret masyarakat Kota Sumenep yang bisa hidup rukun dan damai walau memiliki keyakinan berbeda. Mereka saling menghomati dan menjaga sikap toleransi satu sama lainnya. Mereka mencerminkan sikap moderasi beragama. Tidak sebatas saling menghargai dan menghomati diantara mereka, tetapi bagi muslim yang sakit, orang non muslim membuka ruang berobat di klinik yang mereka dikelolah.  

Hal lain sikap moderasi beragama yang diamalkan oleh muslim Kota Sumenep, yang direpresentasi oleh para penguasa keraton Sumenep adalah arsitektur bangunan masjid Agung Sumenep. Masjid Agung Sumenep bukan hanya merupakan tempat ibadah ummat islam Sumenep. Tetapi ini adalah simbol perpaduan dari berbagai kebudayaan. Masjid yang di bangun mulai tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi memiliki nuansa asitektur Tiongkok, Eropa, Madura dan Jawa.

Masih dalam hal kebudayaan, muslim Kota Sumenep menyambut tamu kehormatan Bupati Sumenep dengan tarian khas Sumenep yaitu tari muang sangkal atau tari tolak balak. Termasuk pada acara khusus, acara mantenan, tari muang sangkal menjadi salah satu bagian penting yang akan ditampilkan. Tari ini terinspirasi dari tari tayub. Melalui proses kreatifitas, maka lahirlah tari muang sangkal yang mencerminkan budaya kroton Sumenep dan tidak bertentangan dengan nilai nilai agama Islam, baik dari segi gerakan maupun dalam hal berpakaian.


Beberapa fakta yang dipaparkan di atas, hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu kala masyarakat Kota Sumenep memiliki pelilaku baik, hidup damai, saling menghargai dan saling bertoleransi. Masyarakat Kota Sumenep menjungjung tinggi budaya daerah dan dikembang menjadi kebudayaan yang agung. Masyarakat Kota Sumenep adalah salah satu masyarakat harrnoni diantara perbedaan budaya, agama dan keyakinan.

Jadi, Masyarakat Sumenep sudah lama keluar dari masalah intoleran, perbedaan agama apalagi perbedaan budaya. Termasuk kometmen berkebangsaan, masyarakat Sumenep merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi masyarakat Sumenep , NKRI adalah harga mati. Namun, kita menyangkan masalah masalah yang sudah selesai ini, masih ada yang mencoba mengusik dan berharap adanya disharmoni. Tidakkah kita menyadari, kapan kita akan memikirkan bangsa ini maju? Mengejar ketertinggalan dari bangsa bangsa yang lain. Bangsa yang lebih maju dalam banyak hal. Padahal bangsa ini pernah menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain.


Oleh karena itu, budaya baik dan agung masyarakat Sumenep perlu diwariskan kepada generasi muda Sumenep. Praktik baik masyarakat Sumenep  harus dipupuk dan dikembangkan. Sehingga menjadi bagian dari budaya dan peradaban agung Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar