Coba cek saja

 


Kebaikan


Masyarakat pinggiran masih menjunjung tinggi tatakrama. Walaupun ada sebagian yang mengabaikan perilaku baik atau tatakrama, itupun jumlahnya tidak banyak. Biasanya mereka bukan asli tinggal di pinggiran. Sering meninggalkan daerah pinggiran. Pada umumnya sudah mengenal perilaku yang kurang baik, materialis dan hedonis, karena pergaulan atau mengenal dari tontonan telivisi dan dari konten konten internet.

Bagi yang asli pinggiran, perilakunya santun. Orangnya sederhana, familiar dan bersahaja. Mereka guyup dan gotong royong.

Hingga saat ini, saya sering mendapati tamu yang asalnya dari daerah pinggiran ke madrasah, bersikukuh melepas sandalnya ketika masuk ruang tamu. Tidak cukup dibilang sandalnya dipakai. Sehingga tidak jarang saya sendiri dan teman saya yang mengambilkan sandalnya dibawa masuk dan menghaturkan untuk dipakai.

Itu karakter, perilaku yang baik yang sudah mendarah daging. Dimanapun ia akan begitu. Sopan. Kadang terlihat tidak percaya diri. Tetapi tidak demikian. Tetapi menghomati orang lain.

Jagan berbuat salah dengan orang orang pinggiran. Jalin kebaikan dengan mereka. Mereka biasa hidup rukun dan damai. Leluhurnya mengajarkan kearifan "Lakar padhena perreng, tape gelha. Lakar oreng lain, tape alebbidhan benbelha." Walaupun orang lain, seperti kerabat dekat.



Posting Komentar

0 Komentar