"Pak Hajar, pimpinan tidak bersedia menjadi pemateri. Beliau menyarankan agar mencari pemateri dari Balai Diklat Keagamaan (BDK). Selain kompeten masalah IKM, dan banyak yang bergelar Doktor," suara teman di seberang memberi kabar.
"Bagaimana? Sampean ada kenalan orang BDK yang kompeten IKM dan bergelar Doktor?"
Otomatis pikiran saya bekerja lebih cepat dari biasanya. Berpikir mencari alternatif orang yang harus saya sebutkan. Namun disisi yang lain, mengalir begitu saja dalam pikiran hal hal yang berkait dengan kata Doktor.
"Iya, saya punyak teman yang memiliki kriteria itu. Kebetulan tahun lalu saat acara di Jakarta satu kamar dengan saya." Jawab saya membalas panggilan teman.
Tiba tiba sambungan telepon WA putus. Saya telepon balik hingga tiga kali. Tetapi belum juga terhubung.
"Sebaiknya jenengan menghungi teman kita yang 3 tahun lalu membangun kerjasama dengan BDK," pesan saya melalui chat WA.
Lama belum ada jawaban. Sehingga saya tinggalkan laman WA, lalu saya membuka aplikasi you tobe untuk menonton ulasan debat Capres putaran terakhir.
"Terima kasih sarannya. Saya akan segera menghubunginya," balasan singkat dari teman saya.
Doktor. Kayaknya pantes juga di pasangkan di depan nama saya. Dr. Mohammad Nurul Hajar, S. Pd.,M. Si. Pikiran ini pernah terlintas dipikiran saya tahun 2007. Kayaknya meraih gelar Doktor semakin dekat. Padahal baru masuk kuliah S2 Matematika UGM. Gilanya pikiran saya saat itu, bahwa terbesit kalau S1 di UM, S2 UGM, maka S3 nanti di UM Australia.
Maka saya berkabar ke teman seperjuangan saya waktu kuliah di UM, saat ini masih konsisten tinggal di kampung halamannya, bahwa saya sedang lanjut kuliah S2 di UGM.
Saya berharap dengan kabar itu, Ia mau melanjutkan juga ke S2. Apalagi ia sudah menjabat sebagai kepala sekolah.
"Mas, tidak mau lanjut studi ke S2?" Tanya saya melalui chat WA setelah cerita ke barat ke timur.
"Tidak Mas...Saya cukup S1 saja. Walau saya S1 tetapi bisa menguji guru lusan S2 bahkan S3 yang mau mengajar di sekolah yang saya pimpin," balasan chat teman saya.
Keren juga jawaban teman saya.
Dosen saya waktu di UM walau masih S2 tetapi keren dan pintar pintar. Apa ada yang sok pintar? Saya belum menemukan yang parah.
Walau tidak lama di UGM setidaknya saya diajar dua dosen muda, Doktor lulusan luar negeri. Satu masih berumur 29. Satunya lagi perempuan waktu itu baru berumur 33 tahun. Selebihnya ada yang punyak jabatan sebagai Profesor. Tetapi tidak ada yang pendidikan terakhirnya S2.
Berinteraksi dengan dosen UM dan UGM yang keren memang beda banget. Pun demikian ketika kuliah S2 di UT. Di UT saya belajar dengan dosen dari berbagai perguruan tinggi. Ada yang dari Unesa, UPI, UNM dan dari UT sendiri. Mereka memberi semangat nelajar dan ada menginspirasi.
Pada tahun 2018 saya ikut seleksi beasiswa program 5000 Doktor Kemenag RI. Waktu itu saya dinyatakan lulus sebagai calon penerima beasiswa. Namun nasib belum berpihak saya melanjut pendidikan S3 di UNY. Karena saya tidak di terima di perguruan yang dituju, S3 PEP (Penelitian dan evaluasi Pendidikan) UNY.
Setelah dipikir pikir mungkin karena saya niatnya asal kuliah S3. Kurang begitu mengenal prodi yang saya dipilih. Karena waktu itu tidak menemukan pilihan Prodi yang sesuai dengan pendidikan S1 dan S2 yang pernah saya tempuh.
Padahal waktu itu saya optimis diterima. Saya mengira gridenya tidak setinggi kalau mengambil S3 Pendidikan Matematika. Dan saya ingat betul cerita teman peserta seleksi S3 PEP UNY yang baru saja lulus S2 Psikometri UGM, Dia dosen pada suatu PTS di Yogyakarta, waktu itu sama sama sedang menunggu panggilan interview.
"Pak, menurut Prof. Badrud Kaprodi PEP, tahun ini akan membuka dua kelas. Namun masih belum menjadi keputusa. Oleh karena itu, saya disarankan ambil tahun ini. Beliau juga menyampaikan bahwa saat ini Prodi PEP sudah menerima 8 calon mahasiswa dari luar negeri. Jadi, ditahap 3 ini kayaknya bakal banyak yang diterima."
Sesuai jadwal pengumuman hasil seleksi, saya buka akun pendaftaran untuk melihat pengumuman diterima atau tidak.
Ternyata, "Anda belum diterima menjadi calon mahasiswa S3 PEP UNY."
Beberapa menit kemudian saya chat teman dosen. "Bu, jenegan diterima?"
"Tidak diterima, Jenengan tentu diterima, kan?" balasnya.
"Sama bu, belum rejeki kita diterima tahun ini."
"Betul, kabarnya untuk menjaga mutu Prodi PEP maka hanya membuka satu kelas."
Saya harus berlapang dada. Lebih giat lagi belajar. Menerima fakta bahwa matematika yang dipandang sulit, ternyata masuk S3 PEP UNY lebih sulit dari pada masuk S3 Pendidikan Matematika UNY. Mungkin juga diperguruan tinggi lainnya.
Mungkin hikmahnya bagi saya adalah melanjutkan pendidikan harus karena ilmu. Bukan untuk mencapai sesuatu selain ilmu. Termasuk niat asal Doktor.
Beberapa waktu kemudian saya berjumpa dengan teman di gedung Pasca Sarjana Unesa yang di Lidah. Waktu itu ada workshop bagi pendamping olimpiade Matematika.
"Mas, jenegan kuliah S3 manejemen pendidikan saja di tempatku. Murah, tidak perlu terlalu ideal kalau sudah bekerja. Buat apa sampean lanjut S3 Pendidikan Matematika, toh nanti ilmunya tidak dipakai dalam bekerja." Saran teman saya yang menjadi salah satu unsur pimpinan PTS maju di Surabaya.
"Saran yang bagus, cocok untuk perkejaan saya. Namun, masalahnya apa punyak nota kerja sama dengan penyelenggara program 5000 Doktor Kemenag RI?"
"Kalau yang ini sepertinya belum, Mas. Biaya sendiri saja. Murah kok." Membujuk saya untuk lanjut studi di tempatnya.
Untuk maksud itu saya sempat mendiskusikan dengan teman besti.
"Bagus kalau mau ambil S3. Tetapi ingat, ya! Jagan menjadi orang asing bagi orang yang sudah kenal. Sebab, ada orang kalau sudah Doktor, ia menjadi manusia baru. Seolah olah baru dilahirkan. Jalannya, bicaranya, memandang orang lain berubah. Kalau berjalan bahunya yang tidak kekar dilebarkan, dagu sedikit ditarik ke atas." Nasehat teman baik saya.
Saya hanya menyimak dengan baik. Sambil menelan saliva saya mencerna nasehatnya.
"Ada juga setelah bergelar Doktor, kalau berbicara malah sulit dimengerti. Lebih dekat pada halusinasi dari pada realitas dirinya. Padahal biasa biasa lebih membuat orang simpati." Lanjut teman saya memberi nasehat.
Menakutkan juga. Saya mending tidak lanjut S3 kalau menjadi orang baru kayak itu. Mengerikan.
"Tetapi, tidak sedikit Doktor yang memiki idealisme. Kuliah S3 tidak asal. Menjadi Doktor yang tidak asal asalan. Memiliki kesadaran untuk mengembangkan diri, mengasah potensi dan menjaga intelektualitas. Contohnya, kakak kelas kita yang menjadi dosen Malang."
Ehm, siapa Ia?Saya mencoba mengingat ingat kakak kelas yang dimaksudkan teman. Siapa, ya?Doktor yang tidak asal Doktor. Doktor tidak asal.


0 Komentar