Pertemuan pengawas di kediaman K. Mahsul Guluk Guluk terasa berbeda. Setidaknya untuk saya pribadi. Kurang cair. Padahal tuan rumahnya salah satu diantara yang tergolong "longor" (Baca: Suka bercada).
Awalnya seperti biasa. Masih cair. Ada tu2an rumah tentunya. Saya dan pak Firdaus datang lebih awal dan bersamaan. Kami bertemu di perjalanan. Pak Fir naik sepeda dari Sumenep, saya naik sepeda juga. Bedanya yang satu tenaga mesin, yang lain tenaga manusia.
"Beberapa perempuan sangat menjaga dan perhatian terhadap penampilannya. Terutama dalam menjaga kecantikannya dengan cara meriasan wajah. Hingga glowing. Tetapi lupa menjaga yang lain. Kadang duduk di pinggir jalan seenak. Kayaknya sengaja, you can see sekitar paha." Ujar saya menirukan cerita teman.
"Wk wk wk..."
"Itu tidak seberapa dibandingkan cerita ibu penjual di pasar dengan kusir dokar," timpal Kyai Mahsul sambil ter tawa. Sementara Pak Fir senyum senyum.
"Bagaimana ceritanya?" Celetuk saya penasaran.
"Sudah cukup. Tidak usah dilanjutkan. Itu cerita lama." Sanggah Pak Fir sambil tertawa.
Ada bunyi panggilan di HP. Saya cek HP, bukan panggilan di HP saya. Ternyata HP Kyai Mahsul yang ada panggilan.
"Masih terus. Pertigaan belok kiri ada pasar terus. Ada gudang garam ambil kiri terus lurus. Walau ada perempatan terus saja lurus." Diantara pembicaan Kyai Mahsul dengan temannya di seberang.
"Pak Iskandar lupa. Padahal sudah beberapa kali ke rumah. Mungkin kalau jalan, pandangan Pak Is lurus tidak lihat kiri kanan," ungkap Kyai Mahsul sambil meletakkan HPnya di meja.
"Begitu kalau jalan pandangan lurus lupa tanda tanda jalan. Tetapi untung tidak berpapasan dengan you can see sekitar paha." Imbuh Kyai Mahsul dengan tawanya yang khas.
Tidak lama kemudian Pak Is datang yang kemudian disusul oleh Pak Ipunk. Berikutnya Pak Fadil. Akhirnya dari ruang transit, kami dipersilahkan menuju ruang pertemuan.
Sampailah kami pada ruang yang luas berada di lantai dua. Langit langit ruangan terbagi menjadi beberapa kotak dari beton yang dicor. Sehingga ruangan secara dinamis dapat di jadikan bilik atau kamar. Cukup dengan cara memasang tirai kain, bilik sudah jadi. Dengan teknik itu ruang yang luas itu bisa menjadi delapan kamar.
Ini bukan pertama kalinya kami duduk di ruang itu. Tetapi kali ini ruang itu terasa beda.
"Ini ruang apa Pak Mahsul?" Tanya Pak Ipoek.
"Ini tempat pasien saya yang perlu perawatan lebih dari sehari."
"Sampean nerima pasien yang sakit apa saja?" Tanya Pak Fir.
'Sembarang. Yang mau berobat saya layani. Tetapi saya banyak membantu pasien laki laki kurang greng dan pasien belum memiliki keturunan."
"Oh....melayani pasien yang berangkat berdua, pulang bertiga," canda Pak Ipoenk.
Semua yang mendengar tertawa. Ini masih belum lengkap. Lawan Pak ipoenk melawak, yaitu prof. Salamet Riyadi belum datang. Coba sudah datang, tentu suasananya tambah cair.
Hari mulai beranjak siang. Koordinator bidang (Korbid) pengawas MA belum datang. Dia baru tiba jam 10.04 WIB. Karena acara sudah terlambar 2 jam dari rencana yang tertera diundangan, maka Korbid langsung memulai acara.
Mungkin karena sudah siang, bu Korbid langsung lancap gas masuk materi yang Ia ingin sampaikan. Biasanya setelah pembukaan ada kegiatan ngaji surat Yasin dilanjut doa dan kadang ada sambutan tuan rumah.
Jadi sejak Korbid datang suasana sudah beda. Dekat dengan serius. Kalau lebih bisa disebut suasana garing. Pengawas yang hadir terbawa suasana.
Prof. Salamet R datang, berikutnya Bu Indah dan terakhir Pak Joni. Mereka langsung menyimak pepamaran Bu Korbid tentang istilah baru dalam tugas pengawas madrasah. Pengawas tidak hanya membina mereka harus melakukan pendamping.
"Pengawas harus berperan sebagai fasilitator, mentor, coach, dan instruktur. Tidak hanya melakukan pembinaan dan pengawasan di madrasah binaannya," ungkap Bu Korbit dengan semangat power full.
"Pak Ipoenk, kalau konsep ini bukan hal baru bagi sampean. Apa yang dilakukan sampean sudah seperti itu. Selangkah lebih maju," bisik saya ke Pak Ipoenk.
Tentu dibilang begitu Pak Ipoeng tertawa lepas. Tetapi tidak lama kembali menyimak penjelasan Bu Korbit.
Belakangan ini pengawas sedang banyak pekerjaan dan tanggung jawab. Ada yang belum selesai SKP di ekinerja. Yang belum selesai capaiannya macam macam.
Persoalan lain yang sedang dihadapi beberapa pengawas yaitu sedang serius memikirkan nasib kepala dan guru madrasah pasca terbitnya aturan keharusan setiap sergur untuk mengunggah dua sertifikat pengembangan diri di simpatika dalam satu tahun.
Beberapa pengawas sudah menjadi tumpuan guru bagaimana mencari jalan keluar dari persoalan sertifikat. Sehingga wajar beberapa pengawas tidak main main. Yang bisa santai jadi bersungguh sungguh. Apalagi yang tipenya serius.
Saya menahan diri untuk banyak komentar, menyangga dan memberi usul pada kesemptan itu. Pun Prof. Salamet. Karena kami berdua tidak bisa mengikuti acara diskusi sampai selesai.
Saya berharap hasilnya diskusi itu dishare di grup. Namun hingga tulisan ini selesai, ternyata belum ada kabar. Sepertinya saya harus lebih serius lagi menunggu kabar itu.




0 Komentar