Hari pertama, Jum'at 19 Juli 2024 pembukaan Pelatihan Asesor BAN PDM Provinsi Jawa Timur dilaksanakan pada jam 13.30 WIB di Ballroom Majestik Hotel Harris Gubeng. Sebagian yang lain di tahap I di tempatkan di Hotel Platinum.
Setelah pembukaan yang saya ikuti di Hotel Harris Gubeng, langsung dilanjutkan sesi pemaparan Peran Dinas Pendidikan/ Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur dalam Peningkatan Kualitas Satuan Pendidikan. Pada sesi ini yang menjadi narasumber dari Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur yang di hadiri oleh Kapala Bidang Pendidikan dan Madrasah (Kabid Pendma), yaitu Dr. H. Sugiyono, M. Pd.
"Mutu pendidikan madrasah masih rendah. Madrasah se Jawa Timur 2% negeri sisanya 98% adalah madrasah swasta," ungkap Pak Sugiyo panggilan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Provinsi Jawa Timur.
Sontak saya berbesik kepada teman di sebelah kiri, jarang jarang ada pejabat yang jujur seperti Pak Sugiyo. Memaparkan bahwa lembaga di bawah koordinasinya masih rendah mutunya.
Teman saya menganggukkan kepala sebagai tanda sependapat dengan saya.
Ada dua indikator menurut beliau yang menjadi sumber masalah utama. Pertama, tidak ada rekrutmen guru madrasah. Kedua, tidak terlaksanya Pengembagan Profesional Berkelanjutan (PKB) di madrasah.
Tidak ada rekrutmen guru madrasah, maka guru madrasah sejak awal tidak diketahui bagaimana kompetensinya dan tidak ada standarisasi. Tidak sedikit guru madrasah yang sudah strata 1, namun di madrasah mengampuh mata pelajaran di luar disiplin ilmu yang ditekuninya. Dengan kata lain tidak sedikit guru madrasah yang tidak liner.
Selain itu, karena tidak ada rekrutmen yang dipublikasikan secara terbuka, maka penerimaan guru madrasah lebih bersifat familier dan pertemanan. Pada satu sisi baik, namun disisi yang lain kurang profesional. Hal kadang sering berpotensi guru kurang disiplin, kurang bertanggungjawab dan kurang memiliki semangat berkembang.
Kondisi ini memang dilema. Karena madrasah sendiri tidak memiliki daya untuk melakukan rekrutmen. Toh akhirnya kemampuan madrasah hanya mampu memberi upah dengan makan siang gratis. Jika digaji kadang hanya cukup mengganti uang bensin. Rata rata hanya digaji Rp. 200.000 perbulan. Bagi guru yang sertifikasi lumayan, namun jumlahnya masih sedikit.
"Lebih parah lagi, ketika melihat kondisi madrasah pinggiran dan kepulauan. Di sana mau mencari guru yang mengajar tepat waktu, sekolah masuk tepat jam 07.00 WIB." Ungkap teman yang pernah menjadi pengawas di kepulauan.
Ini bukan berarti bahwa semua pendidikan madrasah mutunya rendah. Beberapa sudah bagus. Bahkan ada yang bertaraf internasional.
Hal lain yang menjadi kualitas pendidikan mmadrasah rendah adalah tidak berjalannya pengembagan keprofesional berkelanjutan guru madrasah. Bukan tidak ada pelatihan, bimtek dan workshop bagi guru. Namun frekuensinya masih sedikit. Jagankan guru di madrasah swasta, guru PNS setahun belum tentu dapat kesempatan mengikuti pelatihan.
Organisasi profesi semisal KKG dan MGMP banyak yang mati suri. Semestinya di KKG dan MGMP guru bisa berkolaborasi dan saling asah untuk meningkatan kompetensi diri. Bersama sama mengembangkan diri seprofesi.
Hal ini diperkuat oleh fakta bantuan pokja PKB KKG dan MGMP tidak terserap secara optimal. Karena KKG dan MGPM kurang berminat mengakses dan berkegiatan dalam rangka pengembagan diri, pengembangan keprofesian berkelanjutan.
Belakangan balai pusat pelatihan keagamaan meluncurkan aplikasi pintar kemenag. Ini menjadi tujuan bagi guru yang mencari sertifikat sebagai syarat pencairan TPG. Melalui App Pintar Kemenag, guru berlomba lomba ikut pelatihan. Namun daya serap akan materi pelatihan masih kutang memuaskan. Jadi, Pintar Kemenag bukan solusi peningkatan mutu pendidikan madrasah.
Akhirnya, diujung pemaparan Bapak Kabid pendma beliau berpesan. " Saudara jagan bertanya. Saya tidak perlu pertanyaan dari para asesor yang ahli masalah pendidik. Tetapi, saya perlu saran dan masukan bagaimana meningkatkan mutu pendidikan madrasah."





0 Komentar