"Apa yang berkesan di Gorontalo, pak?" Tanya Pak Ferdiyanto Yahya.
Ferdiyanto K. Yahya itu nama lengkapnya, biasa dipanggil Pak Ferdi. Kalau siswa dan wali murid memangilnya Pak Guru. Saat ini sedang berbahagia sudah dikukuhkan menjadi guru profesional di Harris Hotel Surabaya pada tanggal 21 Januari 2024 oleh UINSA.
Ia teman saya dari Kabupaten Gorontalo-Gorontalo. Dua kali berkunjung ke Gorontalo, di hari pertama selalu membersamai saya. Bahkan selalu menawarkan diri untuk menjemput saya di Bandara Jalaluddin Gorontalo. Baru saya kabulkan pada kunjugan yang kali kedua.
"Yang berkesan banyak di Gorontalo."
"Diantaranya, pak?" Tanya Pak Ferdi penasaran.
"Tentang pendidikan, kotanya, benteng Otanaha, danau Limboto, pantai dan tebing jalan raya antar Kabupaten dan Provinsi, termasuk orangnya." Jawab saya sambil menikmati nasi goreng yang kami pesan di Royal Plaza Surabaya.
"Maksudnya yang perempuan, ya?"
"Oh tidak. Bukan tentang perempuan, pak." Saya menjawab sambil tertawa.
"Lalu, orang Gorontalo kenapa berkesan?"
"Saya merasa, seolah olah mereka sudah lama mengenal saya. Sehingga baru saja berjumpa langsung tertawa lepas, berjabat tangan dengan penuh semangat. Kalau perumpuan sopan dan murah senyum. Ingat Pak Arjun? Pertama kali bertemu. Kita belum turun dari sepeda motor, nama saya disebut sebut sambil melambaikan tangan menyambut saya sambil tertawa tidak punyak beban kedatangan Instruktur Visitasi AKMI."
Satu sendok nasi goreng saya masukkan ke mulut dan mengunyahnya. Kami asik menik mati nasi goreng.
"Bahkan saya sempat dipreng sama kepala madrasah Pak Fahyudin Daud . Sebenarnya saya berharap beliau tidak mengantar saya, tidak mau merepotkanya, saya cukup diantar Pak Pahyudin. Tetapi dengan alasan perjalanan akan menyeberang sungai yang banyak buaya dan sebagainya. Itu berbahaya. Sementara beliau itu adalah pawang buaya. Jika bersamanya maka saya akan aman. Padahal setelah diperjalan itu akal akalannya."
"Kami orang Gorontalo dididik bahwa setiap orang bersaudara. Hanya beda sukunya." Timpal Pak Ferdi sambil menatap ke arah saya.
"Terus yang paling berkesan, pak?" Lanjutnya.
"Orang madrasah dan tata kelola pendidikannya. Teman teman madrasah yang pernah bersinggunagan dengan saya, beberapa masih sering mengisi ruang pikiran saya. Diantaranya, ada Bu Melky, Pak Ishak Latoda, Pak Ardian, Pak Iswan Nggolitu, Bu Maryam Darodji Marzuki dan orang langkah Gorontalo yaitu Bu Nyai Doly Hanani serta Pak Ferdi sendiri."
"Saya sering mengikuti status FB pak Hajar. Sampean tidak ada keinginan menulis pengalaman di gorontalo, seperti tulisan Journey To Sakala."
"Sebagian sudah saya tulis. Terutama yang kunjungan pertama ke Gorontalo. Setelah ketemu Pak Ferdi keinginan itu tumbuh kembali untuk menjutkan sisanya."
"Siip...ditunggu, Pak."
"Mohon didoakan, ya!"




0 Komentar