"Pak, ini rapor siswa kami," kata seorang ustad muda sambil menyodorkan rapor hasil belajar salah satu siswanya kepada saya.
Ini tidak biasa. Pasalnya, sejak menjadi pengawas, tahun 2016, saya hampir tidak pernah mengurusi masalah yang satu ini. Kecuali rapor hasil belajar anak sendiri.
Dulu pernah ada seorang kepala yang menunjukkan rapor hasil belajar siswanya. Kira kira kejadiannya 8 tahun silam. Tahun 2017, tahun setelah moratorium pemberlakuan Kurikulum 2013 (K13) dicabut. Sepertinya waktu itu masih semagat dan hangat hangatnya implementasi K13.
"Pak, sebagian besar guru sampean memberi nilai pada aspek psikomotorik siswa asal menilai."
Kata kata itu mengalir begitu saja setelah saya mengamati sebaran nilai di rapor yang saya pegang. Tentunya ini membuat teman kepala tidak percaya dan bercampur heran dengan apa yang saya katakan. Namun setelah ditunjukkan bagian bagian yang berpotensi, teman kepala mulai tumbuh rasa percaya kepada apa yang saya katakan.
"Pak, setelah saya konfirmasi kepada guru yang bersangkutan, dugaan sampean tidak salah." Tulis teman kepala dalam chat WA kepada saya.
Sepertinya saya bukan contoh pengawas pendamping satuan pendidikan yang baik dalam hal ini.
Karena sudah disodorkan, maka saya mau tidak mau harus menerima dan otomatis membaca bagian yang sudah terbuka pada bagian lembar rapor itu.
Dari situ, maka diskusi saya dengan guru mulai terbangun. Waktu itu juga hadir kepala dan wakakurnya.
Satu masalah yang kami diskusikan diantaranya adalah tentang hasil rapor P5/ P5RA. Masalahnya kenapa tanda ceklist tidak muncul? Saya tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi seperti itu. Masalah ini menjadi PR bagi saya untuk mencari informasi lebih lanjut.
Untuk maksud itu, maka saya banyak berdiskusi dengan teman guru dari beberapa lembaga. Terutama dengan guru yang menjadi wali kelas. Dari hasil itu dan eksplorasi aplikasi yang digunakan maka saya menemukan benerapa hal yang menarik dari algoritma aplikasi.
Selain itu, saya juga menemukan deskripsi hasil olahan aplikasi berdasarkan tulisan guru yang dimasukkan pada aplikasi, juga tidak kalah menariknya.
Guru diminta memasukkan KD jika K13, TP jika kurmer atau materi yang diajarkan pada aplikasi. Tidak tersedia otomatis. Jika KD/ TP yang dimasukkan maka deskripsi yang benar akan memuat dua unsur. Pertama adalah unsur kompetensi dan yang kedua adalah unsur materi.
Jika hanya materi saja yang dimasukkan atau ditulis, bagaimana?
"Misalnya materinya adalah zina yang dituliskan, maka secara otomatis deskripsinya: Menunjukkan penguasan yang sangat baik dalam zina." Seorang teman guru memberikan contoh.
"Ha ha ha" kami tertawa.
Tidak mau kalah, teman guru PKN memberi contoh juga. "Materinya radikalisme dan terorisme, maka hasil deskripsinya adalah Menunjukkan penguasaan yang sangat baik dalam radikalisme dan terorisme".
Maka penting untuk membaca dan mengkritisi hasil pekerjaan kita. Walaupun menggunakan aplikasi agar terhindar dari karancuan dan bahan gurauan.
Semoga pengalaman yang sama tidak terulang kembali. Learning by doing harus jalan terus. Teruslah belajar sepanjang hayat.






0 Komentar