Coba cek saja

 


Terasi Udang Tambak

Gambar diambil di internet

Tahun ini merupakan tahun ke dua setelah saya dimutasi dari Kec. Ambunten ke Kec. Lenteng. Ambunten tempat kerja pertama saya sebagai pengawas madrasah. Kurang lebih dua tahunan saya bekerja sebagai pengawai pembina madrasah ibtidaiyah (MI) di Kecamatan ini.

Tidak hanya masalah pendidikan madrasah yang saya amati di Ambunten. Sesekali saya mengamati aktifitas para nelayan di sekitar muara sungai di daerah Lebbek. Ketika tidak melaut, sebagian dari mereka ada yang membersihkan perahu. Ada yang memperbaki mesin, ada juga yang memperbaiki jaring. Bahkan ada juga sebagian mereka yang hanya duduk duduk di pantai ngobrol hasil tangkapan mereka.

Ambunten terkenal sebagai tempat pelelangan ikan tuna. Orang Sumenep lebih akrap menyebutbya ikan cakalang, pasnya cakalang putih. Padahal Pasongsongan adalah tempat pelengan ikan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, dalam pandangan masyarakat Sumenep tempat ikan ya di Ambunten.
Selain terkenal dengan tempat pelelanga ikan cakalang, Ambunten juga dikenal sebagai tempat memproduksi petis. Varian petis bisa kita dapatkan di sini. Mulai dari yang berkelas hingga yang amatir, di Ambunten kita bisa menjelajahinya. Kalau Anda mau survey bisa colek saya. Saya siap menemani dan mengenalkan Anda kepada beberapa teman yang expert di bidang ini.
Disamping itu, Ambunten juga dikenal sebagai penghasil terasi. Hasil terasi Ambunten tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Sumenep, namun hingga ke luar Sumenep. Jember salah satunya. Yang ke Jember saya pernah menjadi narahubung.
Kebetulan salah satu juragan terasi di Ambunten adalah teman saya di pesantren. Sehingga waktu dapat tugas di Ambunten beberapa kali saya main ke rumahnya. Bahkan pada suatu kesempatan saya diajak keliling melihat lihat proses pembuatan terasi.
Teman saya membawa saya ke pantai. Letakknya tidak jauh dari rumahnya. Mungkin hanya sepelemparan batu orang dewasa. Di pantai saya ditunjukkan jenis perahu dan alat yang digunakan untuk menangkap udang untuk bahan baku terasi. Ditunjukkan juga daerah tangkapan para nelayan udang rebon/ ebi sepanjang pantai utara. Setelah itu, saya diajak ketempat pengeringan udang sebelum dihancur. Kemudian ketempat produksi. Sebelum pulang, saya diajak naik ke lantai 2 tempat pengeringan terasi.

Teman saya memproduksi terasi 3 varian harga. Perbatang, perkilo gramnya ada yang Rp. 30.000, RP. 45.000 dan Rp. 65.000. Perbedaan ini tentunya berkorelasi dengan mutu terasi. Menurut teman saya pemilik usaha terasi, yang paling murah selain rasanya kurang mantap terkadang bahkan sering ada pasir di terasi.
Pertama kali saya main ke teman yang juragan terasi itu, pulangnya saya diberi oleh oleh terasi. Saya memang berpesan tidak usah banyak banyak kalau berkenan memberi terasi waktu teman saya menawari saya terasi. Melihat yang ada, satu kotak lebih dari cukup. Betul, satu kotak beratnya satu kilogram baru habis setelah 1,5 tahun.
Dari segi kemasan, terasi Ambunten. Umumnya Sumenep belum sebagus kemasan terasi asal Tuban. Karena kemasannya bagus dan mapan, hampir tidak ada bau terasi kalau kita cium. Terasi hadiah teman asal Tuban pada tahun 2018 itu, tahun 2020 ini masih aman dikonsumsi.
Kalau dari segi rasa, saya rasakan terasi Ambunten tidak kalah dengan terasi dari Tuban. Bahkan jika dibandingkan dengan terasi dari Sapeken, terasi Tuban yang saya terima tidak semantap terasi Sapeken. Kabarnya terasi Saobi pulau Kangean juga enak. Namun terasi yang satu ini saya belum pernah merasakan. Sehingga saya tidak bisa menjelaskan dengan baik.
Lalu, bagaimana nasib industri terasi di Sumenep, khususnya Ambunten setelah menjamurnya tambak udang? Ketika ada inovasi dari pengusaha tambak udang untuk mengembangkan usahanya di sektor industri terasi, apakah mereka tetap bertahan? Atau gulung tikar?. Atau masikah pengusaha terasi bisa memproduksi terasi, ketika air laut pantai utara itu tidak aman lagi bagi anak anak untuk mandi di laut? Semoga saja, air laut itu justru semakin baik untuk perkembangan udang ebi. Tetapi kesulitan nelayan pinggir pantai saat ini sudah semakin jelas nampak di dapan mata. Ketika pantai sudah bukan lagi milik rakyat, ke mana mereka hendak mencari ikan, mencara bibit udang gala dan mencari udang rebon?
Bersiap siaplah, kalau tidak di masa kita. Pasti di masa anak cucu kita kesulitan berat akan dialami. Kecuali kita peduli.

Posting Komentar

0 Komentar