"Ini Pak Guru Daud. Seperti saya, beliau juga mengajar di kelas 5," jelas Bu Melki.
Pak guru, kadang "guru" ketika orang menyapa pengajar di madrasah. Mulai dari anak anak, remaja hingga orang tua menyapa pengajar dengan sapaan pak guru kadang cukup guru. Demikian juga kalau memanggilnya. Panggilan nama secara langsung atau di awali kata Bapak atau Pak diikuti nama belum pernah saya dengar sejauh saya bersama mereka.
"Pak Guru...." Panggilan mesrah. Terasa sejuk dihati bagi orang yang mendengarnya. Demikian juga bagi ibu ibu. Mereka disapa guru atau ibu guru.
Pak Guru Daud dan Bu Guru Melki adalah guru di MIN I Kabupaten Gorontalo. Di madrasah ini tidak banyak guru laki laki. Selain Guru Daud, ada Guru Mizan dan Guru Adrian. Madrasah yang dipimpin oleh Ibu Guru Nursia Doka Unggango, S. Ag berlokasi di Jl. Raja Tolangohula No 57 Iloheluma Kecamatan Boliyohuto. Dari pusat Kabupaten letaknya kurang lebih 60 KM. Sarana kelas ada 12 kelas untuk kelas pembelajaran. Ada ruang kantor, ruang guru, ruang kepala madrasah, ruang tamu, perpustakaan, mushollah dan taman baca di luar kelas.
Saya diajak oleh Bu Guru Melki dan di temani oleh Pak Guru Mizan melihat lihat kelas. Pertama dari bangunan di bagian depan. Bagian kelas bawah. Dari kelas 1 A, 1 B terus hingga kelas 4 B. Kemudian melewati lorong menuju akses ke perpustakaan. Pada bagian tiang lorong banyak tulisan tulisan indah dan insya Allah akan memotivasi bagi yang membacanya. Tulisan slogan terkait dengan literasi dan nasehat hidup.
Di setiap kelas ada pojok baca. Bagian pojok yang lain, atau sisi yang lain ada yang digunakan untuk ruang mempublikasikan karya anak. Ada yang ditulis pojok seni. Ada juga kelas pada bagian pojok ditulis pojok matematika. Di pojok itu ada bangung ruang, media media pembelajaran matematika dan gambar yang berbau matematika. Andai kata ditulis pojok literasi numerasi kayaknya lebih baik.
Saya sempat masuk ke perpustakaan. Banyak anak yang sedang membaca buku di perpustakaan. Mereka terlihat menikmati buku bacaan yang mereka baca. Banyak yang tidak menyadari kehadiran kami. Mereka memiliki waktu 1 jam membaca di perpustakaan. Ini wajib mereka lakukan sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Secara bergiliran setiap kelas harus membaca di perpustakaan selama 1 jam.
Lalu pada bagian belakang, ada blok kelas 5 dan blok kelas 6. Saya masuk kelas 5 A dan menyapa siswa yang ada di dalam kelas. Saya minta ijin untuk melihat lihat suasana kelas.. Ternyata di belakang ada pak guru yang sedang melukis bagian belakang dinding kelas. Beliau berhenti melukis dan menghampiri saya.
"Kenalkan, saya Hajar dari Jawa Timur," sapa saya sambil berjabatan tangan.
Sambil tersenyum, " Saya Daud. Maaf tangan saya kenak cat"
"Pak Guru yang melukis semua kelas di MIN ini?" tanya saya.
"Iya Pak, saya yang melukis dinding semua kelas. Saya kerjakan secara bertahap disesuaikan dengan waktu luang saya" cerita Pak Guru Daud .
"Woow, keren."
Kita tentu sudah biasa melihat kelas dicat. Tetapi untuk kali ini, saya melihatnya berbeda. Di setiap kelas warna dan objek yang dilukis berbeda. Saya teringat pada teman yang mempresentasikan kelas berkonsep. Menurut pemaparan teman saya waktu bertemu pada Jambore Inovasi Jawa Timur di Surabaya, kelasnya ada yang dilukis dengan konsep buah buahan, binatang menyusui, binatang peliharaan, dll. Tetapi, yang saya lihat kali ini lebih unik.
*Pak guru, saya lihat warna dan objek lukisan di masing masing kelas yang saya kunjungi berbeda beda. Ada konsep atau pesan khusus yang ingin disampaikan?" saya mencoba menyelidiki apa konsep lukisan di dinding kelas MIN I Kabupaten Gorontalo.
"Saya melukis kelas kelas itu, saya sesuaikan dengan kesukaan anak anak. Anak kelas satu, mereka suka gambar binatang atau buah yang dilukis besar. Mereka tertarik dengan gambar dari pengalaman nyata kehidupan mereka. Sedangkan untuk anak kelas lima, gambar kesukaan mereka beda lagi. Mereka lebih suka lukisan alam dan lebih absrak."
Saya termenung sejenak.
"Sepertinya Guru Daud melukis dinding kelas menggunakan konsep perkembangan psikologi anak. Tetapi beliau menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami yaitu disesuaikan dengan kesukaan anak."
Bagi saya ini pengalaman yang luar biasa, bisa bertemu dengan guru yang seniman. Tidak hanya itu, tetapi dedikasinya dan pengabdiannya kepada madrasah. Beliau bekerja untuk madrasah dengan kemampuannya itu secara cuma cuma. Dengan kata lain, jerih payahnya melukis dinding kelas tidak minta dibayar. Semuanya gratis. Termasuk lukisan pada bagian tembok pembatas di bagian belakang madrasah juga gratis.







0 Komentar