'Sebentar lagi kita akan ke luar negeri." Kata mbak Lira.
Lira panggilannya. Nama lengkapnya ia tidak memberitahuku. "Cukup panggil saya Lira, pak." Dari ceritanya ia sedang menempuh pendidikan S2 manajemen pendidikan di IAIN Sultan Amai Gorontalo.
"Ke luar negeri, maksudnya mbak?"
"Sebentar lagi di depan ini kita akan masuk Desa Paris," jelas mbak Lira sambil mempercepat laju mobil karena tujuan kami masih jauh.
"Adakah tulisan atau icon untuk latar foto di Desa Paris?"
Jika ada aku akan minta mobil berhenti untuk foto di Desa Paris. Namun, sayang di Desa Paris belum ada tulisan atau icon yang menunjukkan kita sedang di Desa Paris. Aku kira seperti di Bumela, Sidomulyo, dan Pakuyaman di lapangan desa ada tulisan nama daerah. Oleh karena itu, aku hanya lewat saja.
Desa Paris adalah ibu kota Kecamatan Mootilango. Ada empat madrasah ibtidaiyah akan aku kunjungi di Mootilango. Madrasah itu MIS Al Awwaliyah Karyamukti, MIS Al Munawwarah Huyula, MIS Helumo, dan MIS Nurul Islam Pilomono. Semua madrasah swasta. Di kecamatan ini madrasah ibtidaiyah yang terbanya akan aku kunjungi.
"Pak, kita sudah sampai di MIS Al Awwaliyah Karyamukti. Mobil puter balik di halaman madrasah. Mohon ijin saya tidak turun langsung pulang." Kata Bu Mariyam yang mengantarkanku.
Ini madrasah yang ke 5 yang sudah aku kunjungi. Semua madrasah yang sudah aku kunjungi halamannya luas. Punyak taman baca di halaman madrasah. Tanaman di halaman terawat. Sarana belajar lengkap. Ruang kepala, ruang tamu, ruang guru dan ruang kantor semuanya ada. Ada juga mushollah. Bahkan kalau di MIS Al Awwaliyah ada 5 kamar kecil dengan satu kamar mandi menggunakan kloset duduk.
Meminjam bahasa teman, mereka serius mengurus pendidikan.
Setelah sholat Jumat, aku melanjutkan kunjungan ke MIS Al Munawwarah Huyula. Aku diantar oleh Pak Guru Abdullah. Madrasah ini ada di bawah lereng bukit. Punyak kelas afilial yang berada di atas bukit. Di madrasah ini aku dipertemukan dengan guru senior dan pejuang pendidikan. Kami terasa sudah lama berteman. Rasanya aku punyak orang tua di Gorontalo.
"Kenalkan, saya Hajar." aku memperkenalkan diri.
"Saya Ishak Latuda." dengan senyumnya yang khas dan suara tegasnya.
"Pak guru, Ishak itu nama orang tua saya. Jadi, saya bertemu dengan orang tua di Gorontalo."
Entah apa yang menyebabkan aku sama pak guru Ishak Latuda cepat akrab, ngobrol mengalir dan terasa banyak kesamaan. Beliau satu satunya lelaki di madrasah. Di madrasah ini yang memimpin adalah perempuan. Sebelumnya pak guru Ishak Latuda yang menjadi kepala madrasah difinitif. Namun karena adanya suatu kebijakan dari kantor kementerian, beliau diberhentikan oleh kantor Kementeria Agama sebagai kepala madrasah dan diangkat sebagai guru di madrasah. Beliau sebenarnya adalah ketua Yayasan di MIS Al Awwaliyah Karyamukti.
"Pak guru, bagaimana kalau besok ngisi kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Pokja KKG MI Kecamatan Mootilango. Besok pematerinya hanya satu. Sementara kegiatan hingga sore hari. Besok materinya literasi numerasi. Cocok dengan kapasitas pak guru, mau ya?"
Besok aku punyak janji. Masa aku harus membatalkannya.
"Bagaimana pak guru? Teman teman guru dari madrasah akan merasa senang dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri, besok pematerinya dari pusat. Instruktur Nasional yang sesuai dengan bidang keahliannya.."
Belum sempat aku jawab. Pak guru Ishak Latuda kembali membujukku.
"'Pak guru, kapan lagi akan berbagi dengan kami yang ada di daerah terpencil begini."
"Baiklah, kepada orang tua saya harus sami'na wa atho'na." ku yakinkan diri kalau besok saya harus ke Desa Paris lagi
Perasan bimbang, gamang, ada senang semuanya campur aduk di hati. Tak sadar ekspresi wajahku seperti HP kehilangan signal kata ibu kepala madrasah.
Sebelum pulang, aku diantar pak guru Ishak Latuda ke tempat kegiatan besok pagi. Sampailah aku di depan gedung pertemuan milik Kecamatan Mootilango. Gedung ini berada di Desa Paris. Jadi, besok aku akan ke luar negeri lagi. Ke Paris Gorontalo. Bukan Paris Prancis.
Keesokan harinya, aku berangkat pagi pagi ke Desa Paris. Karena jam 08.00 waktu Gorontalo aku harus mengisi pelatihan pembelajaran berbasis literasi numerasi. Aku diberi waktu 2 jam untuk berbicara dan berdialog dengan peserta pelatihan.
Luar biasa, partisipasi guru madrasah di Kecamatan Mootilango mengikuti pelatihan tergolong tinggi. Mereka antusias mengikuti sajian demi sajian yang aku berikan.
Mereka tertarik pada kalimat "Mathematics may not teach us how to add LOVE or minus HATE. But it gives us every reason to hope that every problem has a solution."
Sesi terakhir sebulum aku pamit ke Kota Gorontalo adalah sesi foto bersama.
Kepertigaan Sidodadi aku diantar oleh pak guru Ishak Latuda. Aku merasa diistimewakan. Andai kata beliau mau, aku bisa saja diantar oleh pak guru Abdullah, pak guru Roy, atau pak guru Rajak. Tetapi beliau sendiri yang mengantarkan saya hingga ketempat oto yang ke arah Kota Gorontalo.
Dari jarak jauh aku melihat menara. Mirip merana Eiffle Paris Prancis. Betul, oto yang kutumpangi lewat di bawah menara. Setelah googling ku dapatkan informasi bahwa ini menara Eiffle Gorontalo yang berada di Kota Limboto. Ini salah satu icon kebanggaan Gorontalo.
Mengapa menara ini di bagun di Kota Limboto. Tidak di Desa Paris Ibu Kota Mootilango? Mungkin di Desa Paris akan dibagun menara Eiffle yang lebih tinggi lagi.
Saya akan ke MIS Al Awwaliyah Karyamukti Kecamatan Mootilango. Mobil sudah melewati pertigaan Sidodadi. Ke depan sedikit ada pertigaan lagi. Kalau kiri ke Desa Huyula dan kalau ke arah kanan itu yang akan melewati Desa Paris. Di desa Paris lokasi kantor kecamatan Mootilango.



.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

0 Komentar