Jam 11.15 WIB pesawat SuperAir Jet dengan nomer penerbangan JT 233 yang saya tumpangi tiba di Bandara Udara Internasional Kualanamu Medan. Tidak ada bagasi. Semua barang saya bawa ke dalam pesawat. Jadi tidak perlu menunggu bagasi. Tetapi saya tidak langsung keluar bandara. Karena saya harus istirahat sebentar di dalam bandara. Sekalian cek rute perjalanan dan lain lain terkait perjalanan saya berikutnya.
Karena waktu saya masih di Gorontalo, saya fokus menyelesaikan pekerjaan. Urusan ke Asahan hanya browsing untuk pemesanan tiket ke Medan dan Hotel di sekitar Asahan. Rencananya ketika di Surabaya saya baru akan eksplor perjalanan saya selama di Asahan. Namun, saya saat di hotel bandara ternyata tidak sempat. Karena sudah ngantuk maka saya tidur. Harapannya bangun tidur saya bisa buka laptop dan berselancar. Lagi lagi tidak ada waktu. Karena bangun tidur sudah persiapan penerbangan yang jadwalnya jam 06.15 dari Surabaya ke Jakarta kemudian lanjut ke Medan.
Di Bandara Kualanamu, di depan mushallah ada tempat duduk. Di sini saya mulai buka aplikasi Go-Jek. Saya cari tujuan ke Grand Singgie Hotel Tanjung Balai. Tetapi tidak terdeteksi. Menggunakan Grab juga hasilnya sama. Saya coba buka google map. Ternyata ke hotel saya perlu perjalanan kurang lebih 5 jam. Lumayan jauh kota kelahiran Ustad Abdus Samad (UAS) dari Bandara Kualanamu.
Saya cari Travel dari Kualanamu ke Tanjung Balai menggunakan Google. Tidak ditemukan. Yang banyak Travel dari Kualanamu menuju Kisaran. Nanti dari Kisaran ke Tanjung Balai pakai kendaraan lain.
Beberapa nomer yang saya dapat di internet, satu per satu saya hubungi. Ternyata sudah pada jalan. Akhirnya saya menghubungi teman teman yang baru kenal di WA. Karena selum sampai di Asahan ada beberapa teman yang sudah komunikasi via WA. Ada Bapak Alimuddin dari MIN 2 Asahan, Bapak Mahendra dari MIN 4 Asahan, ada Ibu Nina Herlina dari MIN 10 Asahan. Mereka yang diawal awal yang membantu saya mendapatkan nomer kontak 6 madrasah yang akan saya kunjungi. Ada lagi teman di Asahan yaitu Bapak Sartiji Kepala MIN 5 Asahan.
Dari mereka, pak Sartiji yang lebih awal merespon WA saya. Dari beliau saya dapat nomer Travel Nice Trans. Di tempat pemberhentian Nice Trans saya bersama seorang ibu paru baya, Sebut saja Ibu Yohana, menunggu Armada yang menuju Kisaran. Hingga hampir 2 jam dalam penantian tidak kunjung berangkat. Menunggu itu memang capek. Sehingga saya harus minta ijin untuk ikut Armada yang lain menuju Kisaran.
Setelah kucing kuningan dengan petugas Nice Trans, saya dapat calo perjalanan ke Kisaran. Bersama ibu tadi saya menuju area parkir. Ternyata ini yang ketiga kalinya ibu Yohana berinteraksi dengan si calo pada hari ini. Tetapi saya meyakinkan sebentar lagi kita akan berangkat.
Tidak lama kemudian mobil Suzuki Pajero datang dan kami pun berangkat ke Kota Kisaran ibu Kota Asahan. Sementara tujuan saya adalah Tanjung Balai.
Saya sempat berpikir terkait dengan pesana Pak Sartiji.
"Pak, hati hati diperjalanan ya..." pesan Pak Sartiji dari ujung telepon sana.
Pesan itu mengusik kesadaran saya. Ada rasa aneh. Tetapi bagaimanapun dan di manapun memang kita harus berhati hati.
"Abang turun di mana?" tanya driver ke saya.
"Grand Singgie Hotel di Tanjung Balai."
"Abang, Travel ini ke Kisaran. Nanti Abang saya turunkan dipertigaan yang mau ke Tanjung Balai."
Baiklah. Seolah olah tidak ada masalah.
"Abang, abang ini dari Jawa. Ia baru pertama kali ke Asahan. Ia tidak tahu tempat. Titip abang ini di turunkan di Simpang Kawat, ya bang." pesan iIbu Yohana.
Diperjalanan kami berhenti di rumah makan. Saya makan lalapan ikan nila dan minumnya jeruk panas. Untuk menu itu saya bayar Rp. 50.000. Ada kembalian Rp. 12.000. Lumayan.
Tebing Tinggi sudah saya lalui. Kini masuk Kecamatan Batu Bara. Hari sudah mulai gelap. Dua jam lagi saya baru akan sampai di Simpang Kawat. Kira kira jam 20.00 WIB
"Abang, titip Abang ini diturunkan di Simpang Kawat." pesan ibu Yohana sebelum beliau turun.
"Siap, Kakak. Aman." jawab driver.
Mobil pun kembali meluncur dengan kencang. Dua puluh menit kemudian saya akhirnya sampai di Simpang Kawat.
"Abang, Jagan turun dulu. Saya akan titip Abang sama teman saya biar aman.
Luar biasa orang orang itu.
Dari Simpang Kawat saya diantarkan ke Grand Singgie Hotel naik ojek. Kami sepakat biayanya Rp. 50.000. Namun, sesampainya di hotel, minta tambah Rp. 15.000 untuk makan malam.
Saya dengan suka rela memenuhi permintaan Abang ojek. Bersedekah untuk orang orang baik yang saya temui diawal menginjakkan kaki di Sumatera Utara.





0 Komentar