Coba cek saja

 


Air Laut, Ombak, Terumbu Karang dan Lumba Lumba

Banyak pengalaman berbeda dalam perjalanan menuju Pulau Sakala saat bersama Pak Suhairi pada tahun 2022 dibandingkan ketika bersama Pak Wasit dan Pak Surawi pada tahun 2023 ke Pulau Sakala naik perahu besar.  


Perahu yang saya naiki bisa menjadi pembeda yang utama dan berdampak kepada perbedaan pengalaman berikutnya. Ketika bersama Pak Suhairi naik perahu jollor, saya jadi dekat dengan permukaan air. Sehingga dalam perjalan saya sambil main air laut itu mudah dilakukan. Hal ini berbeda saat berlayar dengan perahu besar. Dengan naik perahu besar, saya jauh dari permukaan air. 


Naik perahu jollor jika ada sedikit gelombang saya kenak cipratan air laut. Tidak harus nunggu gelombang dengan ketinggian satu meter. Kalau perahu besar, gelombang satu meter masih aman. Air laut belum naik. Walaupun demikian, dalam keadaan tertentu berlayar menggunakan perahu besar tetap disiram air laut saat ada ombak besar dan gelombang di atas satu meter.

"Allah Maha Kuasa. Allah sedang menunjukkan aquarium alami. Luar biasa." Puji Pak Suhairi melihat pemandangan yang tidak biasa ada di daerah dataran tinggi.

Memang keuntungan naik perahu jollor, selain bisa main air laut saya bisa melihat dasar laut. Selama dalam perjalan dari Pagerungan Besar menuju Pulau Sakala, saya terkadang dapat melihat dasar laut, ada terumbu karang , ikan hias dan rumput laut. Pada bagian lain saya tidak melihat apa apa karena posisi perahu ada pada laut dalam. 

Pemandangan bawa laut semakin menarik ketika pulang dari Pulau Sakala menuju Pulau Kangean ke pelabuhan Kayuaru. Pelayaran pada wilayah sekitar Pagerungan Besar, Kecil, Sadulang Besar, Sadulang Kecil dan Saular perahu sering melewati daerah dangkal. Sehingga saya dan Pak Suhairi sering melihat terumbu karang, rumput laut dan bintang laut. Jadi, banyak pengalaman berbeda selama perjalan di laut. 

Pengalaman pertama berlayar ke Pulau Sakala, berlayar dengan lumba lumba. Pengalaman Itu setelah terombang ambing di tengah laut, lihat kiri dan kanan, depan dan belakang tidak ada daratan yang nampak, kemudian ada tanda tanda pohon yang terlihat di depan non jauh di Pulau Sakala. 

"Pak, Pulau Sakala sudah kelihatan." Teriak ustad Said dari ujung depan perahu.

"Alhamdulillah, ada tanda tanda kehidupan," tidak bisa gambarkan bagaimana pesaan saya waktu itu setelah melihat huruf alif (mungkin pohon) di seberang non jauh di depan.

Beberapa menit kemudian di sisi kanan perahu ada anak lumba lumba yang membersamai pelayaran saya. Juga beberapa ikan marlin yang terbang di sekitar perahu.

"Pak Suhai, ada tiga anak lumba lumba di sebelah kanan perahu melompat lompat searah dengan arah pelayar kita."

"Asyik ya, berlayar dengan lumba lumba. Sayang sekali, HP diamankan di bagian depan tempat penyimpanan barang. Sehingga tidak dapat mengabadikannya." Timpal Pak Suhairi sambil mengamati tiga anak lumba lumba yang membersamai pelayaran.

Betul Sayang banget, apa yang saya lihat itu tidak sempat diabadikan dalam bentuk foto ataupun video. Karena HP diamankan di bagian deoan perahu yang aman dari siraman air laut. Hanya direkam dalam pikiran dan dirasakan. Termasuk juga pemandangan dengan latar kepulauan hanya bisa saya nikmati dan rasakan saja.

Bagaimanapun sulitnya perjalanan laut waktu itu, namun di sisi yang lain merupakan pengalaman yang luar biasa. Nikmat dan ada kepuasan tersendiri. 

Kepanasan, disiram air laut dan muka kaku saat menuju Pulau Sakala. Tetapi, rasa sejuk, pemandangan laut dan bawa laut yang mengesankan saat perjalanan pulang. Pengalaman ini disempurnakan ketika senja menyapa Pulau Sitabuk. Dedaunan yang berwana hijau di Pulau Sitabok, daun saat diterpa sinar matahari senja ikut berwarna orange. Pemandangan yang eksotik.

 “Sungguh luar biasa. Perjalan naik kapal besar ke Masalembu tidak  begitu menyenangkan. Lebih menyenagkan naik perahu jollor ke Pulau Sakala dan dari Sakala ke Kayuaru. Perasaan jadi nano nano” Cerita Pak Suhairi yang sudah dua kali melakukan pelayaran ke Pulau Masalembu.

Posting Komentar

0 Komentar