Pagi ini saya di suguhi tulisan Pajjher Laggu tentang Somor - Somor e Madure. Dari 17 titik sumur minyak itu, katanya 11 ada di Sumenep. Luar biasa Sumenep.
Karena tulisan itu, saya teringat novel yang ditulis Carl Chairul yang pernah saya baca pada tahun 1999. Pelangi di Desa Petro judulnya. Latar ceritanya adalah kota minyak, Balikpapan Kalimantan Timur dan sekitarnya.
Ini buku fiksi yang pertama saya beli. Awalnya saya tidak ada rencana membeli buku, hanya sekedar mengisi waktu saja. Saya kalau ada waktu luang ketika masih kuliah di Malang, maka saya jalan jalan ke alun alun kota Malang dan biasanya saya tidak lupa mampir Gramedia lalu ke Blok M.
Di Blok M ini hampir sepanjang jalan hingga jembatan baratnya kantor Walikota Malang dulunya adalah tempat buku loak. Di sini saya tertuju pada sebuah buku. Penasaran dengan nama Carl Chairul. Judulnya indonesia, Pelangi di Desa Petro. Nama penulisnya berbau Barat dan Arab. Dari nama penulis, kalau sedikit melihat ke atas pas ada gambar wanita cantik. Lengkap rasa penasaran saya.
Entah sudah berapa kali saya membaca buku itu. Waktu masih di Malang, seingat saya membacanya ada 3 kali. Waktu di Sumenep saya sempat membacanya namun loncat halaman sering saya lakukan. Karena sudah sering membaca. Sehingga tahu bagian bagian yang menarik untuk dibaca lagi. Lagi dan lagi.
Awal tahun 2006, setelah saya menikah pada 28 Januari 2006, bulan maret 2006 saya menyusul istri ke Kalimantan Timur. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan, kota minyak.
Bandara Internasional Sepinggan awalnya hanya tahu dari novel. Kemudian saya tidak tahu berapa banyak saya menginjakkan kaki di Bandara Balikpapan itu. Kalau rata rata setiap 3 bulan selama 3 tahun, dari 2006 hingga 2009, lumanyan banyak.
Dari Balikpapan ke tempat kerja istri saya, Lilis Aisyah Mom's, perlu 7 jam perjalan darat. Melewati hutan Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Bontang dan kemudian Sangatta Kutai Timur.
Waktu itu, kota Sangatta dengan Sumenep sebelas dua belas mobilitas orang dan tata ruang kotanya. Sangatta lebih unggul dari Sumenep untuk masalah kuliner dan latar budaya dan etnis masyarakatnya.
Karena latar budaya dan etnis masyarakat Sangatta yang bervariasi ini, maka makanan enak dari sabang sampai merauke di sini kita akan mendapatkan.
Di Sangatta saya punyak banyak teman baru. Rata rata adalah guru. Karena istri saya juga guru. Namun mereka bukan sembarang guru, tetapi mereka adalah guru guru pilihan. Guru yang diseleksi dengan standar tinggi atau adalah guru lulusan terbaik LPTK yang direkomendasi oleh almamaternya untuk menjadi guru di YPPSB.
Yang non guru, teman baru saya tidak banyak. Ada mas Takin, Mas Wan dan paling mudah sepertinya Mas Tias. Mas Tias, Tiastomo Ardian, adalah Geologist Kaltim Prima Coal (KPC)
Pada suatu kesempatan, waktu pertama kali saya di Sangatta, saya diajak Mas Tias ke pantai Suarga Bara. Di pantai sambil melihat kapal yang lagi memuat baru bara, Mas Tias bilang. "Mas Hajar, dari sekian banyak titik minyak, berdasarkan peta minyak sejak jaman Belanda, kebanyakan titik minyak itu ada di daerah kepulauan Madura. Daerah itu dikenal dengan cekungan timur."
"Sepertinya di kepulauan Sumenep," batin saya.
Saya tidak meragukan cerita itu, karena Mas Tiyas adalah alumnus geologi UGM. Namun hingga saat ini, cerita Mas Tias hanya sekedar cerita bagi saya. Saya tidak mampu melakukan sesuatu dengan titik titik minyak yang berlimpah.
Semoga titik minyak yang banyak itu memberi manfaat kepada masyarakat Sumenep. Sehingga bisa mensejahterakan.
Kedepan Sumenep semoga naik statusnya dari kota garam menjadi kota minyak.
Kalau dulu pertama kali ke temu teman di Sangatta yang ditanya masalah tongkat maduru dan garam. Maka, kalau ketemu saat ini dan ditanya tanya tentang Sumenep, maka saya akan menjawab bahwa saat ini Sumenep adalah kota minyak.


0 Komentar