Ahmad Ranis El Muharram Halis, kami panggil Ranis. Ini anak ke tiga dari tiga bersaudara. Lahir hari Rabu manis tanggal satu Muharram delapan tahun yang lalu bertepatan tanggal 14 Oktober 2015.
Ranis, nama panggilan yang sempat saya ragukan. Karena terasa panggilan untuk anak perempuan. Namun akhirnya saya terima itu. Tentunya setelah perdebatan yang panjang. Istri saya berargumentasi ini dan itu. Salah satunya, "Mendikbud Pak Anis Baswedan dipanggil Pak Anis, yah. Tidak ada masalah." Tegas istri saya untuk meyakinkan keraguan hati saya.
Ranis, anak ke tiga kami ketika masih dalam kandungan diprediksi berjenis kelamin perempuan. Begitu dokter memprediksi setelah membaca hasil OSG kandungan istri saya. Ini tidak hanya sekali. Dua hingga tiga kali melakukan pemeriksaan tetap diprediksi akan lahir perempuan.
Oleh karena itu, istri saya sebelum melahirkan sudah beriktiyar membuat nama untuk anak kami yang ke tiga. Maka ditetapkanlah nama untuknta yaitu Sofiah Ainun El Rizah Halis.
Allah Maha Kuasa. Ternyata yang lahir cowok. Tentu saya yang menemani istri saat melahirkan kaget campur aduk. Kok laki laki, wajah minimalis, dan gelap. Istri saya sempat merasa kasihan. Semoga ia dikuatkan ketika dibandungkan dengan saudaranya.
Ranis lahir, belum punyak nama panggilan. Berbeda dengan mbak dan masnya. Lahir sudah punyak nama panggilan.
Butuh waktu cukup lama untuk membuat nama. Baru pada malam ke tujuh dan besoknya akan diselameti nama itu jadi. Ahmad Ranis El Muharram Halis.
Pada usianya yang baru menginjak tiga bulan Allah menguji kesabarannya dan kami sekeluarga. Ranis sakit DB.
Kami tidak menyadari bahwa panasnya itu karena DB. Kami mengira panasnya panas biasa. Panas yang pernah dialami saudara saudaranya. Panas karena faktor perubahan anatomi tubuh. Sehingga selama dalam perjalanan Sumenep ke Blitar kami rawat semampunya.
Karena tidak turun turun maka kami memutuskan untuk dibawa ke Poliklinik di dekat Rumah di Blitar. Dari situ baru diketahui bahwa Ranis kenak DB dan dirujuk ke rumah sakit anak.
Alhamdulillah ia bisa melewati masa kritis dan berangsur angsur sembuh. Sehingga bisa dibawa pulang.
Pada usianya yang masih tujuh bulan, Allah kembali mengujinya. Pada suatu malam Ranis step. Karena itu kami bawa ke bidan di sebelah rumah. Setelah mendapat pertolongan pertama dan Ranis sudah kembali normal. Mungkin karena istri saya juga lagi tidak enak badan maka suhu tubuh Ranis tidak terasa panas dan anaknya tetap ceria sehingga tidak ada kecurigaan apapun.
Namun demi keamanan anak maka Ranis kami bawah ke rumah sakit. Di rumah sakit Ranis harus diopname selama empat hari.
Sejak kejadian itu, kami selalu waspada sampai saat ini. Tidak boleh suhu badannya panas. Setiap terasa panas kami harus melakukan tindakan.
Banyak yang bilang jagan sampai step yang kedua kali apalagi lebih. Karena step akan berpengaruh kepada kecerdasan anak dan perkembangan fisiknya.
Mungkin faktor itu, dalam beberapa hal perkembangan Ranis tidak cepat dua saudaranya. Mempelajari sesuatu lebih lambat.
Walaupun begitu semangat dan daya juangnya luar biasa. Pantang menyerah ketika mempelajari sesuatu. Tidak akan menyerah sebelum dinyatakan bisa.
Saya sempat kuatir Ranis tidak mampu mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas takhassus. Saya melihat terasa berat baginya. Masuk SD belum bisa membaca dan mengaji. Ia harus pulang paling akhir. Karena ada jam tambahan untuk belajar membaca dan mengaji. Tetapi tetap sabar dan menikmati.
Tahun pertama mungkin sangat berat bagi Ranis ada di kelas takhassus. Tetapi kami kagum sama semangatnya. Walaupun harus belajar ekstra akhirnya ia wisuda jus 30 bersama teman temannya yang lain.
Tentunya capaian ini bukan hanya karena faktor dari anak atau keluarga saja. Faktor pendukung yang tidak bisa diabaikan adalah lingkungan sekolah tempat belajar. Sdit Al Hidayah Sumenep , menjadi tempat yang baik untuk belajar Ranis. Dengan layanan yang terpadu dan target yang terstruktur serta guru pendamping yang kompeten menjadikan Ranis berkembang dengan baik.
Ranis sejak kelas 2, sudah bayak kemajuan. Membaca sudah baik. Tulisan yang dibaca dan bunyi mulut sudah sesuai. Tidak ngarang dan asal.
Hari ini kami merasa terharu, menyaksikan Ranis bisa dinyatakan hafal jus 29 walaupun belum sempurna. Terutama istri saya yang dengan sabar dan telaten mendampingi hafalannya saat belajar di rumah, terlihat menangis.
Semoga tetap semangat dan istiqomah menjadi penghafal Al Quran. Semoga titipan Allah ini bisa kami bersamai terus, kami jaga dan kami syukuri.
Kami semakin yakin bahwa setiap anak itu istimewah. Tidak perlu dibandingkan dengan yang lain secara berlebihan. Bandingkan saja dalam hal bagaimana ia berkembang sebelum dan sesudahnya.




0 Komentar