Coba cek saja

 


Inflasi Nilai


Seorang teman bercerita bahwa ketika lulus PGA nilai rata ratanya adalah 7. Nilai dengan rata rata 7 bisa memilih perguruan tinggi swasta tanpa ikut test tulis. Sekarang dengan nilai rata rata 9, tidak ada yang menghiraukan. Demikian juga di pendidikan tinggi, mudah mendapat nilai A. Bahkan lulus dengan predikat sangat memuaskan mudah kita temukan.

Sebuah fenomena yang semakin lazim kita jumpai di dunia pendidikan, dari sekolah hingga perguruan tinggi, adalah melimpahnya siswa dan mahasiswa dengan nilai sempurna. Predikat lulus "dengan pujian" atau "sangat memuaskan" seolah menjadi hal yang mudah diraih. Namun, di balik deretan angka yang membanggakan itu, muncul sebuah pertanyaan mengkhawatirkan: apakah nilai-nilai tinggi ini benar-benar cerminan dari penguasaan ilmu dan prestasi sejati?

Inilah yang disebut inflasi nilai, sebuah kondisi di mana nilai akademik menjadi "murah" karena diberikan dengan standar yang lebih longgar dari seharusnya. Akibatnya, banyak lulusan yang memiliki transkrip gemilang, tetapi pada kenyataannya kosong dari prestasi dan kompetensi yang dibutuhkan.

Inflasi nilai tidak terjadi tanpa sebab. Fenomena ini lahir dari kombinasi berbagai faktor yang saling terkait di dalam ekosistem pendidikan itu sendiri. Antara lain, tekanan institusional dan "siswa atau mahasiswa adalah pelanggan". Banyak institusi pendidikan, sadar atau tidak, berada di bawah tekanan untuk menunjukkan tingkat kelulusan yang tinggi dan menjaga kepuasan siswa atau mahasiswa. Anggapan bahwa " siswa atau mahasiswa adalah pelanggan" membuat dosen dan guru enggan memberikan nilai rendah karena khawatir akan keluhan, ulasan negatif, atau dampak pada akreditasi. Bahkan takut kehilangan siswa atau mahasiswa karena pindah ke lembaga lain.

Faktor lain yaitu niat baik yang salah arah. Terkadang kita mendapati sebagian pendidik merasa tidak tega "menghalangi" masa depan anak didiknya dengan nilai yang pas-pasan. Dengan niat baik untuk membantu mereka mendapatkan beasiswa atau pekerjaan, mereka melonggarkan standar penilaian. Padahal, tindakan ini justru merugikan siswa atau mahasiswa dalam jangka panjang.

Selain itu, terkadang pendidik tidak mau repot. Karena memberikan nilai sesuai kemampuan siswa atau mahasiswa dengan nilai rendah, berarti pekerjaan tambahan bagi pendidik. Kalau prestasi siswa atau mahasiswa ingin lebih baik, maka pendidik harus memberikan pengajaran hingga tugas memberikan tugas perbaikan. Sebaliknya, memberikan nilai bagus di atas KKM, nilai A atau B adalah jalan pintas yang paling damai dan hemat waktu dan aman menghadapi sesi protes nilai dari siswa dan mahasiswa serta atasan.

Meskipun terlihat positif di permukaan, inflasi nilai adalah bom waktu yang menggerogoti kualitas pendidikan secara perlahan namun pasti. Karena akan memberi dampak diantaranya terjadinya yang disebut dengan devaluasi prestasi akademik. Sebab ketika nilai 90 nilai A menjadi hal yang umum, ia kehilangan maknanya sebagai penanda keunggulan. Hal ini tidak adil bagi siswa atau mahasiswa yang benar-benar bekerja keras dan berprestasi luar biasa, karena kerja keras mereka disamaratakan dengan usaha yang minimal.

Kemungkinan lain, dengan terjadinya inflasi nilai akan menurunkan motivasi belajar. Jika predikat tinggi bisa diraih dengan mudah, dorongan untuk belajar secara mendalam akan terkikis. Siswa atau mahasiswa cenderung belajar hanya untuk lulus ujian, bukan untuk menguasai materi. Inilah yang menciptakan lulusan "bernilai tinggi tetapi kosong". Nilai tinggi tetapi tidak bisa apa apa.

Karena tidak menguasai materi, skill dan ilmu, maka akan kebingungan ketika masuk di dunia dkrja. Pemberi kerja semakin sulit menyaring talenta terbaik hanya berdasarkan transkrip. Ijazah dengan IPK tinggi tidak lagi menjadi jaminan kompetensi, sehingga perusahaan harus melakukan serangkaian tes tambahan yang ketat untuk menguji kemampuan calon karyawan secara nyata.

Mendapat nilai bagus atau tinggi sementara tidak sesuai dengan kemampuannya akan membuat kesenjangan antara skspektasi dan realitas semakin lebar. Lulusan yang terbiasa mendapat nilai tinggi akan memiliki kepercayaan diri yang semu. Mereka akan kaget saat memasuki dunia kerja dan menyadari bahwa kemampuan mereka tidak sepadan dengan tuntutan profesional yang ada. Saat itulah kenyataan yang akan dihadapi bisa membuat seseorang merasa terpuruk dan tidak berharga.

Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bersama para pendidik untuk mengembalikan makna pada nilai. Agar tidak terjadi inflasi nilai. Memang mengatasi inflasi nilai memerlukan usaha serius dan komitmen semua pihak karena memerlukan pergeseran budaya yang fundamental. Fokus pendidikan harus dikembalikan dari sekadar hasil akhir (nilai) ke proses (pembelajaran). Penilaian harus digunakan sebagai alat untuk memberikan umpan balik yang konstruktif, bukan sebagai stempel kepuasan belaka.

Kalau berbicara tentang pembelajaran mendalam, berarti tidak berbicara tentang hasil. Tetapi basis pembelajaran mendalam adalah terletak pada bagaimana proses pembelajaran yang bermakna, berkesadaran dan menggembirakan. Oleh karena itu, madrasah/sekolah atau institusi perguruan tinggi perlu menetapkan standar penilaian yang transparan dan konsisten, serta mendukung para pendidik untuk menegakkannya tanpa rasa takut. Karena pada akhirnya, kehormatan sebuah institusi pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak lulusan yang nilainya tinggi, lulusan cum laude yang dihasilkannya, tetapi dari seberapa kompeten dan berintegritas lulusannya saat berkontribusi di tengah masyarakat.


Posting Komentar

0 Komentar