Ini kali kedua saya di beri kesempatan berbiraca di hadapan siswa MA An Najah 1 Karduluk Pragaan. Pertama, saat lepas pisah purna siswa tahun ini, 2025. Kira kira 2,5 bullan yang lalu. Katanya mewakili kepala Kankemenag Kabupaten Sumenep yang tidak bisa hadir karena ada acara lain yang tidak bisa diwakilkan. Kesempatan ini saya terima satu jam sebelum berangkat ke tempat acara.
Kedua, hari ini Selasa 15 Juli 2025. Bertepatan hari kedua kegiatan MATSAMA siswa baru MA An Najah 1. Ini permintaannya sangat mendadak. Masih dalam hitungan menit dan dalam perjalanan dari ruang tamu menuju aula siswa baru berkegiatan. Kurang lebih satu menit sebelum masuk ruangan.
Perbincangan awal, saya diajak KH. Ulul Arham, kepala MA An Najah 1, untuk sekedar foto bersama untuk dokumentasi. Maka dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut. Oleh karena itu, saya dengan santai mengikuti Kyai dari belakang menuju tempat acara yang ditempatkan di lantai dua.
"Pak, mohon berkenan untuk menyampaikan sesuatu buat siswa baru kami," pinta Kyai Ulul.
Tentu saya agak kaget, kok tiba tiba. Sangat mendadak, satu menit kayaknya kurang sebelum saya muncul dihadapan siswa baru kelas X MA An Najah 1 Karduluk.
"Baik, Kyai..."
Ketika masuk ruangan, saya memandang siswa baru yang masih berbau siswa MTs. Semuanya sekitar kurang lebih ada 60an siswa. Jika lebih tidak banyak atau sebaliknya, jika kurang dari 60 juga tidak banyak.
Pada sisi yang lain, saya masih berpikir materi apa yang akan saya sampaikan. Belum juga ketemu, pandangan saya dari siswa mengarah pada tempat duduk dibagian depan dan dekorasi serta lain lain yang memberi kesan sederhana, menarik dan estetis.
"Kyai, tempatnya seperti kita mau talkshow." Bisik saya kepada Kyai Ulul sebelum duduk di kursi panjang dari kayu jati.
Hanya senyum yang saya terima.
Walaupun sudah duduk di depan siswa, materi yang akan saya sampaikan masih belum fiks. Tetapi sudah ada pandangan satu hal yang akan saya ulas. Yaitu tentang setiap siswa kelas akhir MA An Najah 1 harus membuat KTI dan dipresentasikan. Ini tugas yang keren buat siswa kelas akhir.
Seiring perjalanan waktu, ketika Kyai Ulul Arham memberikan pengantar untuk sajian saya, petunjuk itu datang. Ada ide, rasanya cocok kalau saya berbicara tentang ilmu dan terakhir ditutup dengan tugas KTI.
Maka setelah mukaddimah, saya membacakan satu ayat di surat Al Mujadalah ayat 33 yang saya hafalkan waktu masih duduk di kelas 2 MTs. Bahwa Allah SWT berjanji akan mengangkat derajat orang yang beriman diantara kita dan orang orang yang diberi ilmu.
Apa maksudnya orang yang diberi ilmu? Ini hal penting yang perlu digaris bawahi. Bagaimana agar kita bisa memiliki ilmu dan ilmu yang kita miliki termasuk katerigori pada ilmu yang diberi. Sehingga menjadi orang yang diberi ilmu.
"Adik adik, kita harus tahu mana ilmu yang wajib kita pelajari dan mana yang boleh kita pelajari. Termasuk ilmu apa yang wajib kifayah kita pelajari. Belajar matematika bagi saya hukumnya wajib. Tetapi bagi Anda bisa tidak wajib".
Semua siswa masih serius menyimak. Pandangan tertuju kepada saya yang sedang belajar menjadi motivator dadakan atau mungkin pembicara tunggal. Mereka belum ada yang mau bertanya.
Kemudian saya lanjutkan bahwa sebagai pencari ilmu, agar ilmu itu diberikan, maka tidak boleh tidak kita harus memuliakan ilmu itu sendiri.
"Apa contoh memuliakan ilmu, adik adik?" Sejenak saya menunggu jawaban siswa yang baru berstatus siswa MA.
"Baik, begini. Misalnya saya punyak buku Geografi, Fiqih dan Matematika. Kemudian saya susun. Dengan urutan paling bawah buku Fiqih, atasnya buku Geografi dan paling atas buku Matematika. Menurut kalian, susunan buku ini sudah baik?"
"Belum...." jawab sebagian siswa yang proses berpikirnya cepat.
Termasuk jika ada sobekan Al Quran yang tergeletak di lantai segera mengambil dan diletakkan ke tempat sebagaimana mestinya juga termasuk memuliakan ilmu. Termasuk memuliakan ilmu adalah cara membawa Al Quran dan kitab kitab yang terkait dengan ilmu ilmu yang wajib kita pelajari.
Berikutnya, memuliakan orang yang punyak ilmu. Memuliakan dan menghormati guru itu harus kita lakukan. Membantu dan melayani guru sangat dianjurkan dan termasuk diajarkan orang shaleh terdahulu. Agar ilmu yang kita peroleh itu bermanfaat dan barokah, maka kita harus berhikmat kepada guru.
Kita harus menghindar dari perbuatan yang membuat guru kita tak senang, tidak nyaman, apalagi sampai melukai perasaannya. Jagan sampai melakukan perbuat sangat menyinggung perasaan guru sehingga merusak ketulusan guru ketika mengajar kita.
Selain itu, agar kita diberi ilmu adalah memuliakan sesama orang yang mencari ilmu. Perkuat persaudaraan sesama siswa. Saling menghormati dan menghargai. Tidak boleh bertengkar dan saling mengejek. Termasuk contoh yang tidak mencerminkan hubungan memuliakan orang mencari ilmu adalah kasus bullying.
"Adik adik, hal apa saja yang harus kita lakukan agar kita diberi ilmu?", tanya saya sambil berdiri menuju siswa.
"Mas, apa saja?" saya todongkan pertanyaan itu secara acak.
Belum ada jawaban. Teman sebelahnya juga tidak bergeming. Bagi saya pertanyaan ini perlu saya sampikan untuk mengetahui apa pesan saya sudah tersampaikan dengan baik atau masih belum.
'Mbak, apa saja yang perlu dilakukan agar kita diberi ilmu?"
Saya lempar pertayaan itu kepada siswa putri yang duduk di baris dibagian depan.
"Kita harus memuliakan ilmu, orang yang berilmu dan orang mencari ilmu," jawab gadis itu sambil melirik pada catatannya untuk jawaban terakhir.
Ada rasa senang di dalam hati saya. Pertanyaan saya dijawab dengan baik. Walaupun dibagian akhir, gadis itu harus melirik catatannya.
"Ikatlah ilmu dengan cara mencatatnya," dawuh Syaiyidina Ali Karramallahu Wajhah.
"Adik adik, al ilmu nurun. Wa nurullahi la yahdi ilal mangasyi. Ilmu itu cahaya, al ilmu nurun," ungkap saya berikutnya.
"Jadi, adik adik al ilmu itu noron. Ilmu itu noron, ya," lebih lanjut saya menjelaskan dengan serius.
Malah siswa siswi tertawa. Karena saya bilang bahwa al ilmu noron. Noron bahasa Madura, artinya menyalin. Bisa juga menyontek.
"Kadang kala saat ujian, kita menjadi saksi praktek bahwa ilmu itu noron, adik adik. Lirik jawaban teman kiri kanan, dan depan belakang. Lalu jawaban temannya disalin."
Sejenak saya diam.
"Apalagi sekarang. Bisa tidak ada soal sulit dan tugas berat. Jagankan soal berbahasa Indonesia, soal bahasa inggris dilalap dengan bantua AI. Lalu tinggal menyalin ke lembar jawaban kita."
Saya tambah semangat menjelaskan tentang ilmu. Jadi, jagan menjadi orang yang punyak ilmu noron. Bisa saja nilainya bagus, tetapi kosong, tidak manfaat jauh dari berkah.
"Oleh karena itu, kalau ilmu itu nur. Nur Allah tidak akan diberikan kepada orang orang yang suka bermaksiat." Saya menegaskan kepada siswa siswa.
Jadi, bagi penuntut ilmu harus pandai menjaga diri. Selama duduk dibangku sekolah harus selalu mendekat kepada Allah, zat pemilik ilmu. Jagan suka melakukan perbuatan tercela dan bermaksiat.
Masih tentang ilmu. Maksud dari ilmu itu nur atau cahaya, bahwa orang yang berilmu bisa memberikan penerangan dari kegelapan. Penjelasannya mudah dan mencerahkan.
Orang yang diberi ilmu dan beriman Allah SWT akan mengangkat derajatnya. Derajat yang tinggi itu tidak mudah kita raih kecuali dengan perjuagan dan kegigihan. Kadang kita merasakan rasa payah.
Memang begitu, "Payah dalam belajar, itu wajar," saya mengutip kata kata kakak kelas mereka yang sudah lulus.
"Adik adik, pesan saya berikutnya bahwa kita tidak mudah meraih derajat yang tinggi tanpa perjuangan. Jika benar benar menginginkannya, maka kalian harus kurang tidur. Kurang tidur itu pasangannya kurangi makan."
Sangat dianjurkan penuntut ilmu harus punyak waktu lebih untuk belajar. Ingin punyak kemampuan lebih, ya harus meluangkan waktu lebih. Sehingga wajar jika mengurangi jam tidur. Terutama tidak tidur di sepertiga malam terakhir. Waktu ini adalah waktu yang diyakimi waktu istijabah jika kita berdoa.
"Selamat adik adik. Anda masuk madrasah yang tepat. MA. An Najah 1 adalah tempat meraih mimpi Anda. Madrasah yang akan memberi bekal kompetensi di abad 21, melalui tugas KTI di kelas akhir." Begitu saya menutup sajian.







0 Komentar