Sudah menjadi suatu keharusan dan rahasia umum bahwa asesor BAN PDM sebelum ditugaskan visitasi akan mengikuti penyegaran asesor. Bahkan setiap tahap sebelum ditugaskan visitasi juga harus mengikuti pembekalan atau ada briefing terlebih dahulu. Begitu kira kira diantara Srandar Operasional Prosedur (SOP) yang harus asesor ikuti sesuai SOP yang dimiliki BAN PDM.
Dalam pelaksanaannya tentu tidak sama dari tahu ke tahun. Begitupun pengalaman belajar asesor dengan pengajar. Karena teman belajar dan pengajar mengalami perubahan setiap tahunya.
Oleh karena itu, setiap ada kegiatan penyegaran asesor atau refresment asesor mesti ada hal yang baru. Teman baru, pengajar baru, sudut pandang baru, pemahaman yang diperbaharui, ilmu baru dan pemahaman yang baru.
Pengajar baru, kadang kala akan memberikan suatu perspektif lain tentang suatu hal. Baik perspektif pengajar lama maupun perspektif diri sendiri. Bisa saja melihat sesuatu dengan perspektif pengajar baru lebih jelas dan mudah. Atau sebaliknya, tambah tidak jelas.
Demikian juga dengan belajar bersama teman baru akan membuat kita kaya pengalaman, cerita, dan strategi menghadapi asesi dan menyelesaikan masalah saat visitasi.
Dengan pengajar baru, pertanyaan pertanyaan, dan jawaban pengajar tentu ada hal yang baru dan menarik. Demikian juga dengan pertanyaan dan jawaban teman asesor serta pernyataan teman asesor juga ada yang baru.
Oleh karena itu, ketika terjadi situasi yang dipaparkan di atas, maka secara langsung atau tidak kita akan merasakan apa yang disebut konflik kognitif. Keresahan, keraguan, bimbang untuk meneri kebenaran info baru itu, atau menolaknya. Hal ini tentu sering kita rasakan.
Kondisi ini dikenal dengan keadaan ekuilibrasi dalam pandangan spikologi konstruktivis Piaget. Ekuilibrasi adalah proses mencari keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Ketika seseorang mengalami konflik kognitif, mereka berusaha untuk mencapai keseimbangan baru dengan cara menyesuaikan pemahaman mereka.
Konflik kognitif menurut teori Piaget adalah situasi di mana seseorang mengalami ketidaksesuaian antara struktur kognitif yang dimilikinya dengan informasi baru yang diterimanya. Ini memicu ketidakseimbangan kognitif dan mendorong individu untuk mencari cara baru dalam memahami dunia, yang pada akhirnya mengarah pada perkembangan kognitif.
Struktur kognitif merupakan kerangka pikiran atau skema yang dimiliki seseorang untuk memahami dunia. Struktur ini terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan sebelumnya melalui proses asimilasi dan akomidasi sehingga terjadi perkembangan kognitif.
Hal ini sebagaimana pendapat Piaget. Menurut Piaget, perkembangan kognitif terjadi melalui dua proses utama yaitu: asimilasi dan akomudasi. Asimilasi adalah memasukkan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah mengubah struktur kognitif yang ada untuk mengakomodasi informasi baru.
Penyegaran kali ini banyak hal yang menarik yang saya dapatkan. Diantaranya berupa pemahaman baru. Dan selebihnya cerita baru. Ada yang masih menggantung. Belum terhubung dalam struktur kognitif dengan baik.
Dulu saya punyak pemahaman terhadap salah satu instrumen visitasi yang berbunyi "Tersedianya berbagai pilihan kegiatan bermain yang mengandung tiga jenis main", masih longgar. Tiga jenis main yang dimaksudkan adalah main sensori motorik, pembagunan dan main peran.
Awalnya, jika satuan pendidikan menyediakan dua kegiatan main, misalnya membuat buah dari plastisin dan bermain peran jual beli buah, maka saya benarkan atau saya centang saat penilaian. Karena kegiatan anak membuat buah dari plastisin mengandung dua jenis main, yaitu main sensori motorik dan pembagunan sedangkan kegiatan jual beli buah adalah jenis main bermain peran.
Demikian juga, jika ada empat kegiatan main, dari empat kegiatan itu satu kegiatan main termasuk jenis main sensori motorik, satu lagi kegiatan main jenis pembagunan, dan satu yang ke tiga kegiatan bermain peran maka saya centang oke.
Namun, pada kesempatan penyegaran kali ini beberapa teman dan pengajar punyak perspektif bahwa dari berbagai kegiatan main yang disediakan itu, satu kegiatan mengandung tiga jenis main.
Disini saya harus meninjau ulang pengetahuan saya. Sehingga perspektif ini belum sepenuhnya bisa saya akui sebagai sesuatu yang dimaksudkan dalam bunyi instrumen "Tersedianya berbagai pilihan kegiatan bermain yang mengandung tiga jenis main".
Dipikiran masih mengganjal. Ini cukup sulit ditemukan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Sehingga bisa saja saat pelaksanaan visitasi satuan pendidikan tidak menyediakan satu kegiatan main yang mengandung tiga jenis main sekaligus.
Memang ada. Satu kegiatan dapat mengandung tiga jenis main. Tetapi, berapa banyak? Selain itu, ada fakta bahwa jenis main bermain peran dalam pelaksanaannya banyak dipahami sebagia satu kegiatan tersendiri. Guru PAUD kalau menyedian kegiatan bermain peran, maka yang diperlukan ditata dan dipersiapkan di tempat tersendiri.
Walaupun demikian, sudah lumrah begitu. Menjadi kebiasaan. Sudah lama begitu, tidak ada jaminan itu benar.
Pengajar dan beberapa teman asesor saya, tentang hal tersebut di atas mungkin benar. Hanya saya dan teman yang lain perlu waktu untuk menerima sebagai satu satunya perspekti yang benar tentang " Tersedianya berbagai pilihan kegiatan bermain yang mengandung tiga jenis main".
Sebentar, ada telepon dari teman. Semoga memberi opini yang mencerahkan.





0 Komentar