Coba cek saja

 


Seniman Pertunjukan


Hari Minggu malam Senin 22 Juni 2025 saya berkesempatan mewakili Bapak kepala Kemenag Kab. Sumenep menghadiri haflatul imtihan di MI Al Ishlah Kebundadap Saronggi.

Tiba di lokasi sekitar jam 19. 30 WIB. Artinya dari rumah saya, perjalanan kurang lebih 30 menit.

Setelah memarkir sepeda motor, tiba tiba ada orang yang menyapa saya, "Jenengan dari Kemenang?"

" Betul, Pak." dengan rasa penasara saya menjawab. Apa tandanya saya dari Kemenag. Padahal saya datang asal parkir, pakian biasa. Mungkin karena pakai celana dan sepatu.

Setelah duduk sebentar di mushollah, kemudian saya diaturi ke tempat acara.

Pra acara sudah dimulai, entah ini penampilan keberapa dari anak anak TK. Yang jelas sepertinya ada tarian muang sangkal hal ini terlihat dengan adanya beras kuning dilantai dan ada yang berpakai khas penari muang sangkal. Setidaknya hingga acara utama, anak anak TK Nurul Jadid tampil 3 kali. 2 Tari tarian dan 1 anak bernyanyi.


Memasuki acara utama,  ternyata habis pembacaan fatihah masih ada penampilan anak anak MI Al Ishlah. Ada tari tarian, pembacaan puisi dan masih banyak penampilan lainnya.

Diantara kantuk dan kekaguman akan keberanian anak TK dan MI, tanpa beban dan kemampuan olah kata dan raga di pentas saya sadar bahwa saya sedang di daerah para seniman panggung atau seniman pertunjukan.

Desa Kebundadap, Saroka dan Tanjung banyak melahirkan seniman sinden, tayup dan ludruk atau ketoprak. Dari salah satu desa ini kita mengenal pelawak Suharun dan anaknya Edi.


Dari daerah ini setidaknya ada dua grup ludruk yang pernah populer dan masih bertahan hingga sampai saat ini. Yaitu, ludruk Rukun Karya dan Rukun Famili.

Ketika saya diberi kesempatan menyampaikan sambutan, terbesit untuk menyampaikan tentan seni pertunjukan. Tetapi saya tahan, agar sambutan tidak panjang dan relevan sebagai perwakilan dari kantor Kemenag. Maka saya hanya menapresiasi keberanian dan kebebasan anak berekspresi di panggung.

Selain itu, saya menyampaikan nasehat buat adik adik TK dan MI. Agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat, belajar dari buai ibu hingga ke liang lahat. Sebagaimana yang disabdakan oleh junjugan kita, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.


Tak lupa, sedikit menyampaikan pesan para leluhur. Pesan mereka yang diramu dalam lirik lagu Gheik bintang.

Ternyata hingga jam 11 malam, setelah saya naik panggung masih ada sambutan lagi dan masih ada penampilan penampilan yang lain.

Semakin malam bucil bucil itu semakin asyik. Belum terlihat ngantuk. Asyik memaikan peran yang sudah disiapkan dan dilatih.

Ada satu penampilan yang keren banget. Kata MC "Puisi Berantai". Pembacaan puisi yang bersambung dengan cara melanjutkan kata penghubung pembaca sebelumnya.

Pembacaan puisi berantai manarik dan kreatif. Tiga anak yang mambaca semuanya masih kelas 3 MI Al Ishlah. Tetapi gaya dan diksi yang menghubungkan antara satu pembaca dengan pembaca berikutnya membuat penonton tertawa terbahak bahak.

Ini baru satu MI. Belum yang lainnya. Kalau begitu, di Desa Kenundadap, Saroka dan Desa Tanjung tidak akan kekurangan seniman pertunjukan.

Cukup Sinar Tanjung dari Desa Padike Talango yang tinggal nama. Semoga Rukun Falimi dan Rukun Karya tetap berkarya.

Posting Komentar

0 Komentar