Setiap siswa penulis, apa mungkin? Mungkin saja. Buktinya Madrasah Aliyah (MA) Darul Ihsan Pakamban Daya Pragaan Sumenep bisa mewujudkan setiap lulusannya menghasil karya tulis. Tidak sekedar menulis, mereka juga dibekali keterampilan desain grafis. Sehingga tak heran jika sampul karya tulis yang diterbitkan adalah buah kreatifitas mereka sendiri.
Ketika berkunjung ke MA Darul
Ihsan, Senin 21 Juli 2025, saya ditemui oleh kepala madrasah dan beberapa guru.
Dalam percakapan saya menagkap informasi bahwa setiap siswa kelas akhir
menerbitkan karya tulisnya. Awalnya saya sempat tidak percaya hal itu. Tetapi
ketika karya karya siswa diambil dan tunjukkan, maka dari tidak percaya menjadi
rasa hormat dan salut. Karena di tengah tuntutan zaman yang kian
kompleks, MA Darul
Ihsan, mengukir
sebuah tradisi akademik yang unik dan membanggakan. Setiap siswa kelas akhir
diwajibkan untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku sebagai salah satu syarat
kelulusan. Program ini bukan sekadar tugas akhir, melainkan sebuah proses
transformasi yang membekali siswa dengan
keterampilan literasi tingkat tinggi dan rasa percaya diri untuk berkarya.
Program yang telah menjadi ciri khas madrasah ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi yang kuat di kalangan siswa. Melalui program ini, para siswa tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga produsen pengetahuan yang aktif. Karya-karya mereka sejauh ini secara umum dalam bentuk karya fiksi. Untuk karya non fiksi saya belum membacanya.
Untuk merealisasikan program ini, MA Darul Ihsan
memiliki kerja sama dengan lembaga
penerbitan di Yogyakarta. Melalui kerja sama ini hasil
karya siswa memungkinkan seluruh proses, mulai dari penulisan
naskah, penyuntingan, hingga pencetakan, dapat dikoordinasikan dengan baik oleh kedua belah pihak.
Setiap siswa dibimbing secara intensif oleh para guru
dan pembimbing yang kompeten di bidangnya. Proses penulisan ini menjadi sebuah
tugas yang terstruktur, di mana siswa "ditugasi" untuk menuangkan
gagasan mereka ke dalam sebuah naskah utuh. Topik yang diangkat pun beragam,
mencerminkan minat dan kedalaman wawasan para siswa, mulai dari cerita fiksi
hingga catatan catatan harian siswa.
Menurut kepala MA Darul Ihsan, K. Abd. Mu’iz, S. Pd. I, program ini merupakan wajib dan paten bagi pihak madrasah. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan karya fisik berupa buku, tetapi yang lebih penting adalah menumbuhkan dan membumikan budaya literasi di kalangan siswa.
Peluncuran buku-buku karya siswa menjadi salah satu
momen yang paling ditunggu dalam acara wisuda atau haflatul imtihan.
Pada momen sakral tersebut, buku-buku yang baru terbit dipamerkan dan
diperkenalkan kepada publik, menjadi simbol pencapaian akademik tertinggi bagi
para siswa. Ini adalah perayaan atas kerja keras, kreativitas, dan jerih payah
intelektual mereka.
Program wajib menulis buku ini menempatkan MA Darul
Ihsan sebagai lembaga pendidikan yang inovatif. Demgan capaian tersebut, siswa MA
Darul Ihsan memiliki ruang tersendiri bagi salah satu komunitas penulis Kata Bintang Sumenep. Secara khusus,
siswa MA Darul Ihsan menjadi anggota Junior Kata Bintang yang disandingkan
dengan para penulis yang profesional. Bahkan diantara anggotanya yang saya
kenal diantaranya adalah para juara menulis tingkat Nasional. Tidak hanya itu,
karya pilihan siswa MA Darul Ihsan dimuat pada web Kata Bintang.
Dengan begitu, saya melihat MA Darul Ihsan tidak hanya fokus pada pencapaian akademis konvensional, madrasah ini berhasil mencetak lulusan yang memiliki portofolio nyata berupa karya yang diterbitkan, sebuah bekal berharga yang akan terus mereka bawa di jenjang pendidikan dan kehidupan selanjutnya. Tradisi ini menjadi bukti bahwa dengan bimbingan yang tepat, setiap siswa mampu melampaui batas-batas tugas akademis biasa dan menjadi seorang penulis.





0 Komentar