Coba cek saja

 


Taksonomi SOLO


Taksonomi secara sederhana adalah ilmu yang mempelajari prinsip atau metode klasifikasi atau pengelompokan. Di bidang biologi secara khusus taksonomi membahas klasifikasi mahluk hidup mulai dari tingkat tertinggi atau umum yaitu kingdom hingga terendah atau khusus yaitu spesies. Kita yang bekerja dalam dunia pendidikan juga sangat familiar dengan istilah taksonomi Bloom Anderson. Dan ketika menyinggung pembelajaran mendalam, maka kita perlu belajar dengan baik tentang taksonomi SOLO. Beberapa narasumber pembelajaran mendalam menjelaskan bahwa taksonomi SOLO sangat cocok dan efektif untuk memprofeling perkembangan kognitif siswa kita.

Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) adalah sebuah model untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap suatu materi pembelajaran. Dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis, taksonomi ini berfokus pada struktur dan kompleksitas respons atau jawaban siswa untuk menentukan seberapa dalam pemahaman mereka.

Berbeda dengan taksonomi lain yang mungkin fokus pada proses kognitif, Taksonomi SOLO melihat kualitas hasil belajar yang dapat diamati. Model ini mengklasifikasikan pemahaman siswa ke dalam lima tingkatan yang bersifat hierarkis, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.

Taksonomi SOLO terdiri dari lima tingkatan yang menggambarkan perkembangan pemahaman siswa.

1.      Pra-struktural (Pre-structural)

Pada tingkat ini, siswa belum memiliki pemahaman mengenai topik yang dibahas. Jawaban yang diberikan biasanya tidak relevan, salah, atau bahkan tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Siswa pada dasarnya belum menangkap inti dari materi.

Kata kunci: Bingung, tidak relevan, tidak tahu.

2.      Uni-struktural (Uni-structural)

Siswa mulai memahami satu aspek atau informasi yang relevan dari materi yang diajarkan. Namun, pemahamannya masih terisolasi dan belum terhubung dengan informasi lain. Mereka dapat mengidentifikasi atau menyebutkan satu hal yang benar.

Kata kunci: Mengidentifikasi, menyebutkan satu, mendefinisikan secara sederhana.

3.      Multi-struktural (Multi-structural)

Pada tingkat ini, siswa dapat menyebutkan beberapa aspek atau informasi yang relevan mengenai suatu topik. Namun, hubungan antara informasi-informasi tersebut belum dipahami secara mendalam. Mereka dapat membuat daftar atau menjelaskan beberapa hal tanpa mengaitkannya.

Kata kunci: Mendaftar, menjelaskan, mendeskripsikan beberapa.

4.      Relasional (Relational)

Siswa mampu menghubungkan berbagai aspek informasi menjadi satu kesatuan yang koheren dan logis. Mereka dapat melihat gambaran besar dan memahami bagaimana bagian-bagian yang berbeda saling terkait untuk membentuk sebuah konsep yang utuh.

Kata kunci: Menganalisis, membandingkan, mengaitkan, menjelaskan sebab-akibat.

5.      Abstrak Diperluas (Extended Abstract)

Ini adalah tingkat pemahaman tertinggi. Siswa tidak hanya mampu menghubungkan informasi yang ada, tetapi juga dapat menggeneralisasi, membuat hipotesis, dan menerapkan konsep tersebut pada situasi atau konteks baru yang tidak diajarkan secara langsung. Pemikiran mereka melampaui data yang diberikan.

Kata kunci: Berteori, menggeneralisasi, menghipotesis, menciptakan.

Berikut adalah contoh penerapan Taksonomi SOLO dalam beberapa mata pelajaran untuk topik "Siklus Air".

Mata Pelajaran: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Seorang guru ingin mengukur pemahaman siswa tentang siklus air.

·         Pra-struktural:

Pertanyaan: "Jelaskan apa itu siklus air."

Jawaban Siswa: "Air itu basah." (Jawaban tidak relevan dengan konsep siklus).

·         Uni-struktural:

Pertanyaan: "Sebutkan satu tahapan dalam siklus air."

Jawaban Siswa: "Penguapan." (Menyebutkan satu informasi yang benar).

·         Multi-struktural:

Pertanyaan: "Sebutkan tahapan-tahapan dalam siklus air."

Jawaban Siswa: "Ada penguapan, lalu ada pengembunan, dan hujan." (Menyebutkan beberapa tahapan tanpa menjelaskan hubungannya).

·         Relasional:

Pertanyaan: "Jelaskan bagaimana proses siklus air terjadi."

Jawaban Siswa: "Siklus air dimulai ketika air di laut dan sungai menguap karena panas matahari. Uap air ini kemudian naik dan mendingin membentuk awan melalui proses pengembunan. Ketika awan sudah jenuh, air akan turun kembali ke bumi sebagai hujan, yang kemudian mengalir kembali ke sungai dan laut." (Menjelaskan hubungan sebab-akibat antar tahapan).

·         Abstrak Diperluas:

Pertanyaan: "Apa yang akan terjadi pada siklus air jika sebagian besar hutan di dunia ditebang? Kaitkan dengan konsep perubahan iklim."

Jawaban Siswa: "Penebangan hutan akan mengurangi jumlah air yang diuapkan oleh tanaman (transpirasi), sehingga dapat mengurangi curah hujan di area tersebut. Selain itu, berkurangnya pohon akan meningkatkan kadar CO2 di atmosfer, yang mempercepat pemanasan global. Pemanasan ini akan mengubah pola cuaca global, menyebabkan kekeringan di satu tempat dan banjir di tempat lain, sehingga mengganggu keseimbangan siklus air secara keseluruhan." (Mengaitkan konsep siklus air dengan isu lain dan membuat prediksi).

Dengan menggunakan Taksonomi SOLO, guru dapat merancang pertanyaan dan tugas yang sesuai dengan tingkat pemahaman yang ingin dicapai, serta memberikan umpan balik yang lebih spesifik untuk membantu siswa naik ke tingkat pemahaman selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar