Selasa, 25 November 2025 saya berkesempatan belajar tentang Guru dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MA 1 Putra Annuqayah. Saya didaulat menjadi sesuatu pada kegiatan dalam rangka Memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Tentu sebagai pengawas pendampingnya. Jika tidak karena itu, kemampuan apa yang dapat saya tunjukkan dan menarik yang layak untuk menjadi sesuatu pada kegiatan tersebut.
Momen ini awalnya tidak ada rencana diposting maupun ditulis. Namun, karena banyak pelajaran yang saya dapatkan, maka saya tertarik untuk menulisnya. Setidaknya dengan menulisnya, saya lebih mudah untuk mengingat dan mencarinya disaat saya perlukan. Oleh karena itu, saya sangat semangat untuk minta beberapa foto kepada ustad Lukman, salah satu guru di MA 1 Annuqayah. Tentu foto foto itu untuk pemanis cerita.
Beberapa tahun terakhir, sejak menjadi pengawas di tahun 2016, peringatan HGN yang saya ikuti lebih banyak berupa kegiatan upacara. Ini lumayan dari pada hanya menyebar flayer ucapan HGN apalagi hanya memperingatinya hanya dalam hati.
Berbeda HGN di tahun 2017 bagi saya adalah peringatan HGN yang istimewa. Karena pada tahun itu, saya mendapat undangan menghadiri Simposium Nasional Kepala dan Pengawas Sekolah di Jakarta yang diselenggarakan oleh Kemdikdud. Di jamannya Bapak Muhajir E. Foto Bapak Muhajir E bisa dilihat di foto profil WA dan FB saya.
Ketika itu, rangkaian kegiatan HGN tahun 2017 yang saya ikuti diantaranya mempresentasikan hasil penelitian, upacara memperingati HGN, dan penyerahan hadiah dan piagam penghargaan kepada peserta terpilih dari berbagai kategori.
Menjadi berbeda dan berkesan, karena saya termasuk kelompok minoritas dari Kementerian Agama. Saya waktu itu iseng iseng saja ikut seleksi karya. Kok di setiap tahap saya lolos. Apa lagi ketika itu saya diumumkan termasuk penerima hadiah dan penghargaan sebagai penulis KTI Inovatif bidang pendidikan dasar. Jadi tambah tidak dapat saya lupakan. Itu capaian saya tertinggi sebagai seorang guru.
Demikian juga peringantan HGN 2025 di MA 1 Putra Annuqayah juga terasa beda. Walau tidak semegah dan sesemarak peringan HGN di tahun 2017 yang saya ikuti di Jakarta, peringan HGN di MA 1 Annuqayah secara makna dan esensinya lebih berkesan di hati saya.
"Pak Hajar, Kyai Fikri hadir dalam acara ini," bisik ustad Aziz yang menemani saya masuk ke aula dimana tempat peringatan HGN.
Jujur ketika bisikan itu sampai di telenga, di hati ini tiba tiba ada sesuatu. Jika boleh pulang, saya akan pulang. Rasanya tidak pantas mau berbica "cinta" dihadapan beliau. Di depan beberapa kyai Annuqayah. Laksana ada sumber bening dan luas, mengapa harus mempersilahkan sumber kecil untuk menyirami hati guru guru MA 1 Putra Annuqayah.
Tentu saya waktu itu salah tingkah. Tetapi saya harus mencoba biasa biasa saja ketika bersalaman sama kyai Fikri dan guru di sekitar beliau. Celakanya terasa sudah biasa bertemu dengan yang lain dan lupa menyalami mereka, karena saya fokus mencari tempat duduk. Dan agar hati saya tenang, maka saya berbisik pada diri sendiri, "ini kesempatan bisa belajar berbicara dihadapan kyai kyai karismatik dan guru guru mulia, kapan lagi, lawan saja".
Kesempatan ini anugerah. Seperti cinta itu anugerah. Begitu Iwan Flash saat melantun lagunya. Maka berbahagialah.
Kegiatan peringatan HGN di MA 1 Putra Annuqayah masih jauh dari sebuah seminar. Apalagi Siposium Nasional. Sepertinya lebih dekat pada kegiatan belajar bersama dalam suasana halaqah, duduk bersila bersama, lesehan, memakai baju seragam, kompak dan bersahaja. Ini sangat berkesan.
Diantara yang berkesan yang lain dan menarik, sejauh pandagan saya kepada yang hadir, ternyata karpet yang disediakan, bagiaan sisinya penuh dan pas memuat semua guru yang hadir. Hampir sempurna membentuk lingkaran.
Saya dibuat kagum dengan kesantunan KH. A Farid Hasan, BA. Beliau salah satu pengasuh yang mendapat amanah menjadi kepala MA 1 Putra Annuqayah. Ketika beliau hadir di ruang pertemuan, beliau mendatangi para Kyai dan guru untuk bersalaman. Padahal, saya yakin bahwa guru guru itu sebagian besar, bisa 100% adalah santri PP Annuqayah.
Selain itu, pemandangan ini bagi saya tidak biasa, tidak bisa saya lupakan. Terkait dengan sosok KH Moh. Ali Fikri. Karena yang biasa saya temui, biasanya pengasuh dan para kyai disediakan tempat khusus ketika menghadiri acara. Baik acara itu diselenggaran oleh pihak eksternal, lebih lebih ketika kegiatan itu di internnal, di lembaga lembaga yang diasuhnya. Namun, ketika peringatan HGN di MA 1 Putra Annuqayah, beliau Kyai Fikri dan para kyai yang lain duduk bersilah bersama guru yang lain. Tidak disediakan tempat khusus untuk beliau para pengasuh dan pengurus yayasan. Sama seperti guru yang lain. Ini pemandangan yang tidak biasa, yang biasa saya lihat selama ini.
Pengantar singkat dan mendalam dari K. Farid, kepala MA 1 Putra Annuqayah memberi pemahaman yang menyegarkan tentang peran dan tanggung jawab seorang guru. "Guru adalah profesi mulia setelah kenabian. Tugasnya membimbing, menyempurnakan dan menyucikan jiwa murid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT." Begitu kira kira K. Farid mengutip pendapat Imam Al Ghazali.
Ketika berbicara Kutikulum Berbasis Cinta (KBC), maka berbeda dengan kurikulum cinta. Dan sepertinya saya belum pernah tahu ada kurikulum cinta. Sementara ini yang sedang digalakkan adalah kurikulum berbasis cinta. Jadi, apapun kurikulum suatu materi pelajaran, maka dilakukan di atas dasar cinta. Pendidikan dan pembelajaran harus dilakukan dengan prinsip kasih sayang. Harus saling memiliakan. Sesama murid saling menghormati dan memuliakan, murid kepada guru dan guru juga memuliakan muridnya. Semua yang terlibat dalam pusaran ilmu harus saling memuliakan. Termasuk memuliakan ilmu sendiri. Atau cinta ilmu.
Memang ada yang berpandangan bahwa cinta itu kadang menyakitkan, penyebab keluarnya air mata. Karena cinta, sipencinta merasa hampa, sunyi hingga tiada. Dunia sempit. Mungkin ini yang disebut dengan ketiadaan (fana'). Dimana mana hanya dia, cuma dia, mau tidur, bangun tidur, ya dia. Tidak ada aku. Hanya satu yang ada selain yang satu tiada.
Tetapi ketika saya sholat, kok saya ingat bukan Dia. Malu ngaku cinta. Saya menjadi malu, ngaku cinta tetapi tidak selalu ingat. Apalagi rindu.
Berani mencintai harus siap menjadi budaknya. Harus rela melakukan apa tang diperintahbolehbyang dicintainya. Mencintai, maka akan menunjukkan selalu mengingatnya. Jika ingat yang jenuh, ingat yang tinggi itu yang dikenal dengan rindu. Maka air mata yang akan menyejukkannya.
Katanya cinta itu tentang perhatian, pengertian, penerimaan, keterbukaan, dukungan emosional, kebersamaan yang menyenangkan, kesetiaan, rasa hormat, rasa aman, dan tindakan kasih sayang. Semuanya seperti yang diajarkan oleh agama.
So, agama jika dan hanya jika cinta. Begitu kira kira pesan Imam Al Ghazali dan Rumi.
Maka cinta perlu hadir dimana mana. Cinta akan menjadi ruh atau spirit pelaksanaan kurikulum. Maka di madrasah dikenalkan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Dan akan diterapkan juga pada layan yang lain di Kementrian Agama RI.
Ada lima tema cinta yang dikenal dalam KBC yang disebut dengan pancacinta. Cinta kepada diri sendiri dan orang lain, cinta kepada alam, cinta kepada ilmu, cinta kepada tanah air dan cinta kepada Allah dan Rasulullah.
Pancacinta ini bisa mewarnai dalam setiap implementasi kurikulum di madrasah. Baik kurikulum yang tampak maupun yang tidak tampak (Hiden Curriculum). Pancacinta dapat disisipkan dalam kegiatan intrakurikuler, diintegrasikan atau diinsersi dalam pelaksanaan kokurikuler dan pancacinta menjadi nafas budaya dan pembentukan karakter di madrasah.
Pancacinta bukan sekedar pengetahuan, namun lebih pada keteladanan. Tentu ini bukan hal baru dalam tradisi pesantren dan madrasah. Ini sudah lama ada dalam lingkungan pesantren dan madrasah. Oleh karena itu, ketika ada KBC, maka yang sudah menjadi tradisi di pesantren, di madrasah harus semakin baik dan semakin kuat.
Mungkin yang perlu sedikit usaha ketika kita akan menginsersi KBC dalam pembelajara intrakurikuler dan kokurikuker. Kemudian bagaimana cara merumuskan tujuan pembelajaran (TP) yang mengandung dimensi KBC.
Oh iya, ada pertanyaan yang menarik dari seorang guru, "Untuk mengajar dengan cinta, tentu guru terlebih dahulu harus memiliki muatan cinta. Bagaimana caranya guru memiliki muatan cinta itu?" Kira kira begitu inti pertanyaannya.
Rasa seperti sudah diatur, takdir, mungkin saja kebetulan, bahwa ketika saya selesai menjawab sesi tanya jawab, maka K. Faizi narasumber kedua tiba di aula pertemuan.
Ini kali kedua saya bertemu beliau. Pertama di aula SMAN 1 Sumenep. Waktu itu mas Avan Fathurrahman yang mengenalkannya. Karena dari kejauhan maka tidak sempat bersalaman. Padahal sempat berapasan. Selebihnya tahu dari cerita teman teman dan tulisan tulisan beliau dibeberapa media sosial. Kadang di FB dan di Blog pribadinya.
Di sesi sajian K. Faizi saya berniat untuk mengikuti hingga akhir acara. Saya mau belajar dari beliau. Bagaimana mengantarkan sajiannya dengan rileks dan menyenangkan.
Gurindam guru, yang beliau susun dan dibaca diawal penyampainya sangat memukau dengan rima yang apik, penuh pesan moral, dan kata kata jenaka sehingga kita yang menyimaknya kadang dibuat tertawa terpingkal pingkal.
Suasananya cair dan hidup. Beda dengan cara penyampaian saya yang sok saintis, tetapi kering dan garing dari joke joke.
"Saya merasa tidak pantas untuk memberi motivasi kepada guru guru di sini. Karena kalau diukur dari rajinnya, saya bukan orang paling rajin. Pintar juga tidak," tutur K. Faizi sambil melirik jam digital.
"Saya tidak ingin mengulangi lagi suatu kesalahan pada tempo hari. Berbicara lebih dari waktu yang disediakan untuk saya berbicara. Sehingga banyak orang yang kecewa. Oleh karena itu, saya membawa jam digital. Insya allah akan aman seauai dengan waktu yang diberikan, 45 menit."
"Waduh, baru 5 menit sudah mau habis materi yang mau disampaikan. Mau bicara apalagi. Masih tinggal 40 menit", ungkap K. Faizi yang diikuti tawa para kyai dan guru yang hadir.
"Oh iya, menurut saya kyai-kyai Annuqayah termasuk diantara kyai-kyai yang sangat egaliter. Sikap yang menjunjung kesamaan dan kesetaraan. Perhatikan saja KH. M. Ali Fikri, dilihat dari pakaiannya sama dengan guru guru yang lain. Demikian juga dengan kyai yang lain termasuk saya. Mestinya sebagai pengasuh, Kyai Fikri memakai surban".
Hadirin semuanya tertawa.
"Dari jauh sulit dibedakan mana yang kyai dan guru. Karena semua memakai seragam," ungkap K. Faizi lebih lanjut.
Dalam hal ini saya juga sepakat. Keren dan tidak menurunkan wibawah beliau beliau para kyai dan pengasuh. Walau duduk bersilah berbaur dengan guru yang sangat mungkin mereka adalah santri Annuqayah.
"Mungkin saya perlu mengingatkan bahwa ulet dan kesungguhan itu penting. Dulu, saya mengaji sama mbah. Tidak sama abah. Mengerti tidak mengerti saya pokoknya mengaji. Ternyata manfaatnya baru saya rasakan setelah sudah dewasa", kenang K. Faizi.
"Saya menulis nadhoman, sehari atau dua hari kadang baru dapat sebaris. Pernah hasil nadhoman yang saya tulis, saya minta untuk ditahsyih kepada seseorang, beliau masih famili. Apa jawaban beliau. Katanya nadhoman yang saya tulis tidak ada yang benar. Apa tidak seperti kiamat bagi saya." Ujar K. Faizi.
"Namun, saya tidak berhenti untuk membuat lagi. Belajar lagi. Dalam 24 jam, setidaknya saya belajar 8 jam hingga 16 jam."
Saya terperagah menndengarnya. Sepertinya sebagian besar yang hadir juga takjub dan terheran heran. Belajar minimal 8 jam bahkan bisa sampai 18 jam dalam 24 jam. Sulit diterima akal sehat guru pada umumnya.
Jika orang yang tidak cinta ilmu, berlama lama belajar tentu akan terasa seperti disiksa. Tetapi karena cinta, maka berlama lama dengan yang dicintai tidak terasa lama, yang ada adalah senang.
Lebih lanjut, K. Faizi mengingat guru untuk belajar mencoba hal hal baru ketika melakukan pembelajaran. Mulai dari posisi mengajar di depan, tengah dan di belakang. Guru perlu juga belajar ilmu yang dipelajari dalam olah peran, yaitu ilmu dasar teater.
Tentang hal ini saya sepakat dan mendukung pendapat K. Faizi. Saya teringat ketika seleksi menjadi guru di sekolah milik PT PKT Bontang. Kegiatan seleksi bekerja sama dengan UM. Waktu salah satu peserta, mbak Mei namanya, presentasi mengajar, ia mengajar materi matematika SMA dengan santai, menarik dan menyenangkan. Saya tahu, mbai Mei aktif di ormawa teater. Oleh karena itu, saya menduga bahwa ilmu dan pengalaman di teater memberi dampak saat melakukan pembelajaran. Jadi, calon guru yang belajar di ormawa teater akan memiliki performa mengajar lebih baik dari yang tidak memiliki skill bermain peran.
Jadi, saya berkesempatan belajar banyak hal dari K. Faizi. Diantara belajar bagaimana menjadi pribadi yang cinta ilmu. Belajar meminimalisir kejenuhan ketika belajar, belajar menjadi pribadi yang ulet, tekun, fokus dan selalu semangat.
Dipenghujung acara ternyata masih ada acara penyerahan anugerah guru teraktif dan guru teladan. Guru teladan dipilih dari setiap jenjang untuk kategori guru mapel agama dan guru mapel umum. Ada 6 orang guru yang menerima penghargaan di tambah 3 orang guru teraktif.
Semua rangkain kegiatan HGN Ini sangat inspiratif. Tradisi yang positif untuk memuliakan guru guru yang berdidikasi dalam peringatan HGN. Di peringatan Hari Guru Nasional (HGN) acara seperti ini perlu dipertahankan, diketuk tularkan dan dituru oleh madrasah yang ingin maju dan berkembang dengan mutu.
"Saya kok tidak dapat", ujar K. Faizi yang diikuti tawa teman teman guru yang mendengar celetukan itu.
Andai ada nominasi guru paling tahan dalam belajar, pasti K. Faizi guru teladan yang akan terpilih.
Terima kasih para kyai, atas ilmu dan keteladanannya. Di peringatan HGN tahun 2025 saya sangat beruntung dan bersyukur bisa belajar di Annuqayah.





0 Komentar