Coba cek saja

 


Driver Angkot


Disuatu pertigaan saya menghentikan bis mini. Di bagian depan sudah penuh, maka saya duduk di kursi bagian tengan bis mini.

Dari tempat duduk saya, saya mengamati pak driver yang tidak muda lagi. Dari rambu dan keriput wajahnya menceritakan kalau sudah berusia 60 tahin lebih. Namun, wajah itu bersih dan berwibawa.

Satu persatu penumpang turun, hingga akhirnya tinggal saya di bagian tengah. 

"Mas, pindah saja ke depan," pintanya dari luar sambil melangkah menuju kursinya.

"Disini saja pak, tidak apa," jawab saya sambil melempar senyum dan anggukan kepala.

"Saya minta tolong menemani saya di depan," pintanya.

"Baik, Pak..."

Saya bergegas pindah ke kursi depan di sebelah Pak driver.

Kami terlibat pembicaraan yang ringan ringan.

Dari pembicaraan itu, saya diberitahu kalau beliau adalah pensiunan guru madrasah, lima belas tahun yang lalu. Usia saat ini sudah tujuh puluh tahun. Anak tiga cucu empat belas. Punyak bis mini 4, naik haji dua kali. Berbagai pekerjaan pernah dilakoni. 

"Teman saya cari udang menggunakan bubu. Dari satu bubu itu ia dapat tangkapan udang satu kilogram. Menurut pikirannya, kalau ditambah satu bubu lagi maka bisa dapat lebih. Maka ia tambah satu bubu lagi, ternyata dapatnya satu kilogram. Dia lambah satu bubu lagi, maka beberapa hari ia hanya dapat satu kologram lebih sedikit. Akhirnya ia milih satu bubu dan yang lainnya dijual. Begitu diantara cerita Pak driver. Belakangan saya kenal bernama H. Sukri.

Diam diam saya mengagumi beliau, walau tidak muda lagi, beliau pandangannya masih awas dan kaki tangannya masih linca dan cekatan.

Posting Komentar

0 Komentar