Tahun ini, saya dipercaya kembali sebagai bagian dari proses anugrerah GTK Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep. Berkumpul bersama dengan para nominator untuk tanya jawab, bercerita dan bercanda.
Mereka para pilihan yang harus diapresiasi. Setidaknya usahanya patut diteladani. Perlu perjuangan dan pemgorbanan untuk sampai pada titik nominator inovasi media pembelajaran.
Saya melihat kita sedang berada di persimpangan jalan yang menarik. Kita sering mendengar kata "inovasi" diteriakkan di koridor sekolah atau madrasah hingga ruang rapat kementerian, namun seringkali maknanya menguap menjadi sekadar tren atau penggunaan teknologi mahal tanpa tujuan.
Inovasi media pembelajaran bagian kecil dalam inovasi di dunia pendidikan. Inovasi media bukan sekadar mengganti papan tulis dengan layar sentuh (Smart Board). Secara fundamental, inovasi dalam dunia pendidikan adalah upaya sengaja untuk memperkenalkan ide, metode, atau alat baru yang memberikan nilai tambah dan solusi efektif atas permasalahan pembelajaran.
Inovasi media pembelajaran baik digital maupun non digital sejati harus menjawab satu pertanyaan kunci, "Apakah ini membuat proses belajar menjadi lebih bermakna, relevan, dan berdampak bagi siswa?" Jika sebuah pembaruan justru menambah beban administratif tanpa meningkatkan kualitas pemahaman siswa, tidak solutif, itu bukanlah inovasi, melainkan komplikasi.
Dengan digital, aplikasi dan lain sebagainya belakangan sering disebut inovasi. Saat ini, orang sangat mudah melabeli sesuatu yang berbasis teknologi sebagai inovasi. Mungkin hal itu baru bagi sebagian orang, namun bagi yang lain bisa jadi itu tiruan dan pengulangan.
Banyak yang terjebak dalam bias bahwa menggunakan aplikasi terbaru otomatis berarti telah berinovasi. Padahal, teknologi hanyalah pengantar (enabler), bukan tujuan akhir.
Baru, menarik dan unik belum tentu inovatif. Karena belum tentu solutif. Kita sering melihat banyak aplikasi yang dibuat dengan biaya mahal tidak digunakan. Walaupun dengan narasi inovasi.
Saat ini, karena keberlimpahan informasi di internet, orang mudah meniru praktik dan produk orang lain. Baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Celakanya langsung menyebutnya inovasi tanpa melakukan adaptasi kontekstual (lokalitas).
Inovasi yang "gampang" ini seringkali bersifat sementara. Inovasi yang sesungguhnya membutuhkan ketekunan untuk melewati fase uji coba dan kegagalan.
Bagaimana kita dengan mudah mengakui suatu media itu inovatif ketika belum mengalami serangkaian uji coba dan uji validasi?
Karena tanpa adanya uji validasi secara konten, media yang dibuat bisa tidak selaras dengan tujuan pembelajaran, tidak memberi dampak perubahan perilaku dan kognitif siswa. Asesmen yang dilakukan kadang tidak sesuai dan hasilnya merupakan hasil asesmen yang bias.
Belum lagi yang lain. Perlu waktu untuk melewati semua tahapan dalam membuat media. Baik itu media digital maupun media non digital. Jadi, untuk menjadi suatu inovasi, media sejak dirancang, diuji coba sudah nampak kebaruan, keunikan dan memang solutif. Sehingga ketika dilakukan desiminasi banyak orang tertarik untuk meniru atau menggunakan. Mungkin juga mengembangkan untuk konten lain.
Memang menjadi inovator itu bukan pekerjaan mudah. Perlu didikasi dan ketekunan. Menjadi inovator bukan berarti harus menjadi jenius sendirian. Inovator adalah mereka yang berani melihat masalah sebagai peluang.
Oleh karena itu, biasakan mulai dari kebiasaan berpikir kritis (critical thinking). Mulai dari "Pain Points" (Titik Masalah). Jangan mencari ide canggih terlebih dahulu. Lihatlah kelas kita atau lingkungan kita. Apa yang membuat siswa bosan? Di mana letak kesulitan mereka memahami konsep tertentu? Inovasi terbaik lahir dari keinginan tulus untuk memecahkan masalah nyata.
Kemudian adopsi pola pikir desain (design thinking). Gunakan pendekatan yang berpusat pada manusia. Diantaranya empati, pahami perasaan dan hambatan siswa. Lakukan apa yang disebut definisi yaitu rumuskan masalah secara spesifik. Lakukan ideasir yaitu cari solusi kreatif tanpa batasan. Buatlah prototipe atau buat model sederhana dari ide tersebut. Jagan lupa untuk dilakukan uji coba. Sebab dengan diterapkan di kelas kecil kita akan mendapatkan umpan balik yang berguna untuk menyempurnakan karya kita.
Menjadi inovator, harus berani gagal dan terus belajar. Seorang inovator harus memiliki Growth Mindset. Inovasi jarang sekali berhasil dalam percobaan pertama. Jika sebuah metode mengajar baru tidak berhasil, jangan kembali ke cara lama, melainkan modifikasi cara baru tersebut berdasarkan data kegagalan tadi. Begitu terus dilakukan hingga derajat yang diinginkan.
Menjadi inovator tidak bisa hebat sendirian, maka perlu kolaborasi, tidak selalu berpikir kompetisi. Inovasi berkembang dalam ekosistem. Bergabunglah dengan komunitas guru, ikuti perkembangan riset pendidikan, dan jangan ragu untuk berbagi ide. Inovasi yang tertutup akan mati, sementara inovasi yang dibagikan akan terus berkembang.
Akhirnya, selamat para nominator. Khususnya, selamat disampaikan kepada para juara. Semoga terus bergerak dan tidak berpuas diri untuk mutu pendidikan yang lebih baik.




0 Komentar